0 5 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Anggota Komisi XI DPR RI Musthofa menekankan tiga nilai penting yang perlu terus dihidupkan dalam tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Menurutnya, tradisi yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut tidak cukup hanya menjadi agenda tahunan, tetapi harus membawa pesan keteladanan, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta menjaga budaya lokal.

Hal itu disampaikan Musthofa saat menghadiri Festival Ampyang Maulid 1448 Hijriah/2026 Masehi di Loram Kulon, Selasa (25/8/2026). Tradisi tersebut berlangsung dengan arak-arakan berbagai kreasi ampyang dari kawasan Alfamidi Loram Kulon menuju Masjid Wali At-Taqwa.

Musthofa mengatakan keberadaan tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut perlu dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Namun, generasi penerus diharapkan tidak hanya memahami Ampyang Maulid sebagai kegiatan yang ramai dan meriah.

“Generasi muda yang akan datang tentu tidak hanya sekadar melihat ramainya kegiatan ini. Substansinya harus mulai dijelaskan,” kata Musthofa saat diwawancarai, Selasa (25/8/2026).

Nilai pertama yang menurutnya harus ditekankan adalah keteladanan Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi, kata dia, semestinya menjadi sarana bagi masyarakat untuk memahami sekaligus menerapkan akhlak dan perilaku Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh membuat generasi muda meninggalkan nilai-nilai moral. Sikap, perilaku, dan keteladanan harus tetap menjadi bagian penting dalam membentuk generasi penerus.

“Jangan hanya mengikuti perkembangan di era teknologi, tetapi perilaku, sikap dan keteladanan Nabi harus benar-benar dipegang,” ujarnya.

Nilai kedua yang disoroti Musthofa berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Menurutnya, kegiatan budaya yang menghadirkan banyak masyarakat dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan aktivitas ekonominya.

Ia mendorong agar setiap potensi yang dimiliki desa di Kudus dapat dipetakan dengan baik. Dengan demikian, tradisi maupun potensi lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

“Jangan hanya sekadar ada desa wisata, tetapi coba dipetakan potensi-potensi desa. Sehingga nanti bisa dikerjasamakan mulai dari kabupaten, provinsi sampai dengan pusat,” jelasnya.

Musthofa menilai pengembangan potensi desa membutuhkan sinergi lintas pemerintahan. Menurutnya, desa, pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat perlu duduk bersama untuk menentukan potensi yang dapat dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain aspek keteladanan dan ekonomi, Musthofa menempatkan budaya sebagai nilai ketiga yang harus dipertahankan. Ia menilai tradisi Ampyang Maulid merupakan bagian dari kekayaan budaya Kudus yang memiliki nilai sejarah dan perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon, menurutnya, juga memiliki posisi penting sebagai salah satu ikon budaya dan sejarah. Keberadaan masjid tersebut dinilai dapat dipadukan dengan tradisi Ampyang Maulid untuk memperkuat daya tarik wisata budaya di Kudus.

“Inilah yang perlu selalu dilaksanakan secara tahunan supaya masyarakat dan generasi muda paham,” katanya.

Musthofa juga mengingatkan agar pengembangan budaya dan ekonomi tetap berpijak pada filosofi Gusjigang yang selama ini melekat dengan identitas masyarakat Kudus. Nilai tersebut, menurutnya, harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar perkembangan ekonomi tetap berjalan seiring dengan pembentukan karakter.

Ia berharap tradisi Ampyang Maulid dapat terus berkembang tanpa kehilangan makna awalnya. Bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi media untuk menanamkan nilai keagamaan, memperkuat kebersamaan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Loram Kulon, Wahyu Saputra, mengatakan Festival Ampyang Maulid tahun ini diikuti 43 peserta. Peserta berasal dari lembaga pendidikan, musala, dan masjid yang ada di Loram Kulon maupun Loram Wetan.

Menurut Wahyu, antusiasme masyarakat terus mengalami peningkatan. Selain jumlah peserta, jumlah warga yang datang menyaksikan arak-arakan juga semakin banyak.

Ia menyebut kreativitas peserta dalam membuat tandu ampyang turut berkembang. Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat juga semakin terasa dalam pelaksanaan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Sultan Hadirin tersebut.

Dalam rangkaian tradisi itu, masyarakat juga menyiapkan lebih dari 500 bungkus nasi kepel. Nasi kepel merupakan nasi sedekah dari warga yang memiliki hajat atau menggelar syukuran, kemudian dibawa ke masjid untuk dinikmati jamaah maupun musafir.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Abdul Halil, menambahkan Festival Ampyang Maulid turut menjadi bagian dari promosi wisata. Terlebih, Loram Kulon telah masuk dalam pengembangan desa wisata.

Menurut Halil, pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan terhadap potensi wisata dan kegiatan budaya masyarakat. Ia menilai kegiatan seperti Ampyang Maulid merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam mendukung aktivitas masyarakat yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi.

Selain Festival Ampyang Maulid, Desa Loram Kulon sebelumnya juga menggelar expo pada 17-23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 120 stan yang terdiri dari pelaku UMKM dan pedagang dari luar daerah.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Loram Kulon sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi wisata budaya sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal. (AS/YM)


Post Views: 16

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *