KUDUS, Liputan7.Net – Duta Baca Indonesia Gol A Gong menilai persoalan literasi di Indonesia bukan terletak pada rendahnya minat baca masyarakat. Menurutnya, masyarakat justru memiliki keinginan besar untuk membaca, tetapi kebutuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan buku dan akses perpustakaan yang memadai.
Hal itu disampaikan Gol A Gong saat menghadiri Safari Literasi Jawa di Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Kudus, Selasa (18/8/2026). Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian program literasi yang menyasar sejumlah daerah di Pulau Jawa.
Gol A Gong mengatakan, selama bertahun-tahun berkeliling Indonesia dalam berbagai program literasi, dirinya melihat langsung antusiasme masyarakat terhadap buku. Pengalaman tersebut membuatnya tidak sepakat dengan anggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca.
“Saya tahu sekali, saya saksi hidup bahwa masyarakat Indonesia itu minat bacanya tinggi. Hanya negara belum sanggup memenuhi hasrat itu,” ujarnya.
Menurut Gol A Gong, besarnya minat masyarakat belum sepenuhnya dapat terakomodasi karena jumlah buku yang tersedia masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi semakin terasa di daerah yang fasilitas perpustakaannya belum berkembang secara optimal.
Ia juga menyoroti persoalan akses terhadap perpustakaan. Di sejumlah wilayah, khususnya kawasan Indonesia bagian timur, masyarakat masih menghadapi kesulitan untuk mendapatkan layanan perpustakaan maupun bahan bacaan yang dibutuhkan.
“Buku yang tersedia sedikit, kemudian perpustakaan juga agak sulit diakses, terutama di wilayah timur. Itu yang sebenarnya terjadi,” ungkapnya.
Gol A Gong menilai kondisi tersebut perlu dilihat secara lebih objektif sebelum menyimpulkan bahwa rendahnya tingkat literasi disebabkan masyarakat malas membaca. Menurutnya, ketika keinginan membaca sudah ada tetapi bahan bacaan sulit diperoleh, persoalannya bukan semata berada pada masyarakat.
Ia bahkan menyebut anggapan mengenai rendahnya minat baca Indonesia sebagai informasi yang tidak tepat. Menurutnya, sejumlah klaim yang mengatasnamakan lembaga internasional terkait rendahnya minat baca Indonesia juga perlu dilihat kembali sumber dan kebenarannya.
Selain ketersediaan buku, Gol A Gong melihat pemerataan sarana dan prasarana perpustakaan sebagai pekerjaan yang masih perlu diperkuat. Menurutnya, perpustakaan harus hadir sebagai ruang yang mudah dijangkau sekaligus nyaman bagi masyarakat untuk belajar.
Ia berharap dukungan pemerintah terhadap sektor perpustakaan tidak semakin berkurang. Menurutnya, program literasi membutuhkan kesinambungan agar upaya yang sudah dibangun di berbagai daerah tidak berhenti di tengah jalan.
Gol A Gong juga menyinggung kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak terhadap anggaran Perpustakaan Nasional. Ia mengingatkan agar efisiensi tidak sampai menghambat program peningkatan kemampuan membaca dan menulis masyarakat.
“Jangan sampai anggarannya dipotong sehingga pergerakan program-program Perpusnas untuk meningkatkan literasi baca dan tulis yang tahun-tahun sebelumnya sudah bagus menjadi terhambat,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Gol A Gong melihat adanya perkembangan positif dalam budaya menulis. Masyarakat di sejumlah daerah kini mulai berinisiatif menerbitkan buku secara mandiri, termasuk karya yang ditulis oleh guru, siswa maupun komunitas.
Ia mencontohkan pengalamannya saat berada di salah satu daerah di Kalimantan. Di tempat tersebut, dirinya pernah ikut dalam peluncuran sekitar 700 buku yang ditulis oleh guru dan siswa.
“Sekarang orang menerbitkan buku sendiri-sendiri. Saya datang ke satu kota di Kalimantan meluncurkan 700 buku yang ditulis guru dan murid,” katanya.
Menurutnya, pertumbuhan penerbitan mandiri tersebut menunjukkan bahwa ekosistem literasi sebenarnya sedang berkembang. Masyarakat tidak hanya menjadi pembaca, tetapi mulai terdorong menghasilkan karya dari aktivitas membaca dan proses belajar yang mereka jalani.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus Mutrikah mengatakan pihaknya terus berupaya menciptakan kegiatan yang mampu menarik masyarakat untuk memanfaatkan perpustakaan. Salah satunya dengan menghadirkan tokoh literasi seperti Gol A Gong dalam Safari Literasi Jawa.
“Kami sangat senang karena diberi kesempatan mengundang beliau untuk memberikan semangat kepada masyarakat Kudus agar mempunyai budaya membaca dan budaya literasi,” ujarnya.
Mutrikah mengakui perkembangan teknologi membuat generasi muda semakin dekat dengan gawai. Karena itu, Dinarpus Kudus berupaya menghadirkan aktivitas yang lebih menarik agar masyarakat tidak hanya mendapatkan informasi melalui perangkat digital, tetapi juga kembali memanfaatkan buku dan perpustakaan.
Berbagai komunitas turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Mulai dari lembaga pendidikan, komunitas budaya dan pariwisata, penggiat literasi, penulis, kelompok yang bekerja sama dengan perusahaan hingga komunitas penyandang disabilitas.
Menurut Mutrikah, pelibatan banyak kelompok tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan.
“Di perpustakaan sekarang ada kegiatan-kegiatan inovatif yang bisa menjadi magnet masyarakat untuk datang dan membaca buku,” jelasnya.
Rangkaian Safari Literasi Jawa di Kudus dimulai dengan bimbingan teknis bagi para penggiat literasi pada pagi hari. Kegiatan tersebut melibatkan pengelola perpustakaan desa, penggiat literasi dari sejumlah kecamatan serta para penulis.
Pada sore hingga malam, kegiatan dilanjutkan dengan talkshow bertema “Proses Kreatif di Balik Sebuah Buku”, pembacaan puisi dan musik akustik. Dinarpus juga menghadirkan bazar buku serta makanan dan minuman untuk memberikan suasana berbeda di lingkungan perpustakaan.
Mutrikah berharap berbagai kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan masyarakat untuk datang ke perpustakaan. Tidak hanya untuk membaca, tetapi juga mencari pengetahuan, mengembangkan keterampilan dan menghasilkan karya.
“Kalau ingin mempunyai masa depan yang baik, salah satunya bisa dimulai dengan datang ke perpustakaan. Ini yang ingin kami dorong agar masyarakat mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilannya,” pungkasnya. (AS/YM)
Post Views: 18
