GROBOGAN, Liputan7.Net – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Grobogan. Hingga akhir September 2026, sebanyak 131 desa tercatat mengalami kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.
Kekeringan terjadi setelah sejumlah sumber mata air yang selama ini digunakan masyarakat mengalami penurunan debit hingga mengering. Kondisi tersebut membuat warga di sejumlah wilayah harus mengandalkan pasokan air dari luar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan menunjukkan, 131 desa terdampak kekeringan tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi ini menjadikan persoalan ketersediaan air bersih sebagai salah satu dampak utama kemarau panjang yang berlangsung sepanjang 2026.
Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih dilakukan ke sejumlah desa yang mengalami kesulitan air. Salah satunya berlangsung di wilayah Kecamatan Brati setelah adanya laporan masyarakat mengenai kekeringan dan berkurangnya sumber air.
Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 21 truk air bersih telah didistribusikan kepada warga di sejumlah wilayah terdampak. Setiap truk membawa sekitar 4.000 liter air, sehingga total air yang disalurkan mencapai sekitar 84.000 liter.
Kapolsek Brati Iptu Arif Setiawan mengatakan, penyaluran dilakukan berdasarkan laporan masyarakat yang membutuhkan pasokan air selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
“Karena musim kemarau dan adanya laporan dari masyarakat terkait beberapa desa yang mengalami kekeringan serta krisis air bersih, kami berupaya membantu dengan menyalurkan air ke desa-desa yang membutuhkan,” kata Arif.
Menurutnya, distribusi air tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan warga, terutama di wilayah yang sumber airnya mulai mengering.
“Semoga bantuan air bersih ini dapat sedikit meringankan kebutuhan warga yang terdampak kemarau panjang,” ujarnya.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanganan Bencana BPBD Provinsi Jawa Tengah, jumlah desa terdampak kekeringan di Grobogan mencapai 131 desa. Angka tersebut merupakan bagian dari desa-desa di Jawa Tengah yang mengalami dampak kekeringan selama musim kemarau 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di Grobogan bukan hanya berkaitan dengan berkurangnya sumber air, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Selama sumber air belum kembali normal, distribusi air bersih menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak. (Angky)
Post Views: 31
