KUDUS, Liputan7.Net – Pecinta kopi di Kabupaten Kudus kini memiliki pilihan baru untuk menikmati kopi dengan konsep berbeda. Kofi Djohar hadir di kompleks pertokoan Bojana, tepatnya di depan kios makanan Gasasa, dengan mengusung konsep warung kopi tiam khas Asia Tenggara.
Owner Kofi Djohar, Muhammad Nur, mengatakan warung kopi tersebut baru beroperasi sekitar sepekan, tepatnya sejak 14 Agustus 2026. Meski masih terbilang baru, antusiasme masyarakat Kudus disebut cukup baik.
“Baru jalan sekitar enam sampai tujuh hari, mulai 14 Agustus. Alhamdulillah, antusias warga Kudus sangat bagus,” ujar Muhammad Nur saat ditemui Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, Kofi Djohar menyasar konsumen dari berbagai generasi, mulai Baby Boomer, Generasi X, Milenial hingga Gen Z. Namun, konsep yang ditawarkan lebih diarahkan untuk mereka yang ingin menikmati kopi pada pagi hari sebelum beraktivitas.
“Kami membidik Boomer, Gen X, Milenial, sampai Gen Z. Konsepnya lebih untuk ngopi pagi, orang datang, ngopi sebentar, kemudian berangkat kerja,” jelasnya.
Kofi Djohar buka mulai pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Namun, jam operasional tersebut masih bersifat fleksibel. Jika masih ada pelanggan atau tamu yang datang, warung bisa tetap buka hingga sekitar pukul 21.00 WIB.
Muhammad Nur menjelaskan, konsep Kofi Djohar bukan kafe pada umumnya, melainkan warung kopi atau kopitiam. Konsep tersebut sebelumnya telah diterapkan di Semarang dan kini dibawa ke Kudus sebagai cabang kedua.
Nama Kofi Djohar sendiri diambil dari Pasar Johar, Semarang, yang menjadi lokasi pertama usaha tersebut. Konsep awalnya memang dibuat dalam bentuk stall atau kios yang ditujukan untuk berada di kawasan pasar.
“Awalnya konsep kami memang stall, bukan kafe. Kami ingin membawa konsep warung kopi di pasar. Kebetulan Pasar Johar memenuhi kriterianya, sehingga namanya Kofi Djohar,” ungkapnya.
Ia menilai Kudus memiliki potensi pasar yang menarik karena banyak masyarakat yang menikmati kopi. Selain itu, konsep warung kopi tiam dengan penyajian khas tersebut dinilai belum banyak ditemui di Kudus.
Dalam penyajiannya, Kofi Djohar menggunakan gaya Nanyang style. Kopi dibuat menggunakan robusta, kemudian diseduh dengan air bersuhu tinggi dan disaring menggunakan saringan khusus berbentuk seperti kain.
Kopi kemudian ditarik saat proses penyaringan. Menurut Muhammad Nur, teknik tersebut menjadi salah satu ciri khas penyajian kopi tiam karena turut memengaruhi tekstur dan rasa kopi.
“Semakin tinggi tarikannya, rasanya semakin creamy. Karakter kopinya sendiri lebih tebal dan pahit, ada sensasi smoky yang menjadi ciri khasnya,” katanya.
Selain kopi hitam, Kofi Djohar juga menyediakan varian kopi susu yang dibuat lebih creamy untuk menyesuaikan selera pelanggan. Total terdapat empat pilihan menu utama, termasuk kopi dan makanan pendamping seperti roti kaya butter.
“Menunya memang kami buat sederhana, hanya sekitar empat menu. Ada kopi, roti kaya butter, dan beberapa pilihan lainnya. Jadi siapa pun bisa masuk dan menikmati,” jelasnya.
Muhammad Nur mengatakan konsep tersebut sekaligus ingin mengembalikan budaya ngopi pagi yang menurutnya mulai bergeser. Saat ini, kebiasaan minum kopi lebih banyak dilakukan pada malam hari, sementara Kofi Djohar ingin menghidupkan kembali tradisi menikmati kopi sebelum memulai aktivitas.
“Kami ingin mengembalikan kultur ngopi pagi. Datang pagi, minum kopi, ngobrol dengan teman kerja, pasangan atau partner bisnis, kemudian beraktivitas,” tuturnya.
Karena membawa konsep warung kopi sebagai ruang interaksi, Kofi Djohar juga tidak menyediakan Wi-Fi maupun banyak colokan listrik. Hal itu sengaja dilakukan agar pengunjung lebih banyak berinteraksi secara langsung dan tidak terlalu sibuk dengan telepon genggam.
“Tujuan warung kopi itu kan untuk ngobrol dan berinteraksi, bukan bermain handphone. Kami ingin orang yang datang bisa duduk dan berbincang dengan teman, keluarga, pasangan, maupun rekan bisnis,” ujarnya.
Untuk pilihan minuman, Kofi Djohar menawarkan sejumlah menu tradisional dengan harga yang cukup terjangkau. Kopi-O dibanderol Rp7 ribu, Kopi Susu Klasik Rp13 ribu, Kopi-O Butter Rp12 ribu, dan Kopi Susu Butter Rp16 ribu. Sementara untuk pilihan dingin tersedia Iced Kopi-O Rp10 ribu, Iced Kopi Susu Klasik Rp16 ribu, Kofi Dairy Rp18 ribu, serta Kofi Oat Rp19 ribu.
Selain kopi, pengunjung juga dapat menikmati Milk Tea seharga Rp13 ribu untuk sajian hangat dan Rp16 ribu untuk versi dingin. Untuk makanan pendamping, tersedia Kaya Butter Toast dua potong seharga Rp17 ribu dan empat potong Rp30 ribu.
Kofi Djohar juga menyediakan pilihan paket sarapan melalui menu Breakfast Set. Set A berisi Kopi-O, Kaya Butter Toast, dan telur setengah matang dengan harga Rp33 ribu. Sedangkan Set B dibanderol Rp35 ribu dengan pilihan menu yang lebih lengkap.
Muhammad Nur berharap kehadiran Kofi Djohar dapat diterima masyarakat Kudus. Ia juga ingin konsep dan cita rasa kopi yang ditawarkan bisa menjadi alternatif baru bagi warga maupun pekerja di kawasan pertokoan Bojana.
“Harapan kami yang penting cocok dulu dengan warga Kudus. Kalau rasa dan konsepnya bisa diterima, kami ingin terus berkembang dan memperkenalkan kultur warung kopi tiam di sini,” pungkasnya. (AS/YM)
Post Views: 37
