0 6 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Selama ini kretek kerap dipandang sebatas produk hasil olahan tembakau dan cengkeh. Namun, pandangan itu coba dibongkar dalam sebuah seminar di Kudus. Di balik proses produksi yang telah berlangsung lintas generasi, kretek ternyata menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, keterampilan, hingga praktik sosial yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Persoalan itulah yang mengemuka dalam Seminar “Membaca Kembali Kretek Sebagai Bagian dari Sejarah dan Identitas Budaya Indonesia” yang digelar di Ruang Seminar Rektorat Lantai 4 Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (26/8/2026).

Seminar menghadirkan sejarawan Dr. Sri Margana, M.Phil. dan Dr. Edy Supratno, M.Hum., dari STAI Syekh Jangkung Pati, dengan Budi Setiyono, S.S. dari Historia.ID sebagai moderator.

Dalam paparannya, Dr. Edy Supratno mengajak peserta melihat kretek melalui sudut pandang yang lebih luas. Kretek Kudus, menurut materi yang disampaikannya, memiliki perjalanan panjang yang terhubung dengan sejarah masyarakat Indonesia, mulai dari tumbuhnya pengusaha bumiputra, nasionalisme, perjuangan kemerdekaan, masa awal republik hingga kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

“Kretek memiliki pengalaman sejarah yang terhubung dengan perjalanan masyarakat Indonesia,” demikian salah satu poin yang disampaikan Edy dalam materi seminar.

Namun, sejarah panjang itu tidak otomatis menjadikan sesuatu sebagai warisan budaya yang hidup. Edy menekankan bahwa sebuah warisan harus memiliki pewaris yang terus menerima, menjalankan dan meneruskannya.

“Warisan tidak hidup karena kita memilihnya. Warisan hidup karena ada yang mewarisinya,” tegasnya dalam materi yang dipaparkan di hadapan peserta seminar.

Pandangan tersebut menjadi penting ketika membicarakan masa depan kretek sebagai bagian dari identitas budaya. Sebab, yang diwariskan bukan hanya produk akhirnya, tetapi juga seluruh pengetahuan dan kehidupan sosial yang tumbuh bersamanya.

Edy memaparkan, terdapat pengetahuan tentang tembakau dan cengkeh, proses blending, saus, rasa hingga kualitas. Pengetahuan tersebut kemudian diwujudkan melalui keterampilan memilih bahan, mengolah, mencampur, melinting dan mbatil.

“Heritage hidup ketika pengetahuan dan keterampilan terus diwujudkan dalam praktik,” menjadi penegasan lain dalam paparan Edy.

Karena itu, pembicaraan mengenai pelestarian kretek tidak bisa berhenti pada upaya mendokumentasikan sejarah industri. Praktik-praktik yang hidup di masyarakat juga menjadi bagian penting dari sebuah warisan.

Dalam materi seminar disebutkan, yang diwariskan bukan hanya cara membuat kretek. Ada pengetahuan tentang bagaimana kretek dipahami, keterampilan membuatnya, praktik sosial dalam menghadirkannya, hingga makna yang diberikan masyarakat terhadap keberadaannya. Tradisi seperti tingwe, kenduri, hajatan dan srawung menjadi bagian dari konteks kehidupan tersebut.

Kretek pun tidak hanya hadir di ruang pabrik atau pasar. Dalam perjalanan sosialnya, kretek pernah dan masih bersinggungan dengan kehidupan di rumah, warung, hajatan, kenduri, pertemuan hingga ruang publik.

“Kretek tidak hanya dikonsumsi; ia hadir sebagai bagian dari praktik sosial yang memungkinkan orang bertemu dan bersrawung,” demikian gambaran yang disampaikan dalam materi seminar.

Edy juga melihat industri dan masyarakat sebagai dua ruang yang sama-sama penting dalam menjaga keberlanjutan. Industri memiliki kapasitas dalam modal, produksi, riset dan pengembangan pengetahuan. Sementara masyarakat menjadi ruang pengalaman, pembelajaran, pewarisan dan reproduksi praktik sosial.

“Industri memiliki kapasitas mengembangkan pengetahuan; masyarakat memiliki kapasitas menghidupkan praktik,” sebagaimana dipaparkan dalam materi seminar tersebut.

Semangat untuk menempatkan kretek sebagai bagian dari warisan budaya juga mengemuka dalam rekomendasi hasil Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Kretek: Jejak Sejarah dan Warisan Budaya Indonesia. Dalam rekomendasi itu, kretek ditempatkan sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Kabupaten Kudus sekaligus khazanah budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah, sosial, ekonomi, pengetahuan dan keterampilan.

FGD juga mendorong pengajuan Kretek Kudus sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI). Upaya tersebut perlu diperkuat melalui naskah akademik, dokumentasi, video dan berbagai data pendukung, sekaligus menjaga pengetahuan tradisional seperti grading, blending, mbatil dan nglinting.

Tak hanya bicara tentang nilai sejarah, rekomendasi tersebut juga menyoroti manusia yang berada di balik ekosistem kretek. Kesejahteraan buruh, perlindungan pekerja, keberlanjutan petani tembakau dan cengkeh, serta kesinambungan rantai pasok menjadi bagian yang dianggap tidak dapat dipisahkan dari pelestarian budaya kretek.

Berbagai pihak pun didorong untuk terlibat. Komunitas, Pemerintah Kabupaten Kudus, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pemerintah pusat, pelaku industri dan organisasi terkait diharapkan dapat memperkuat sinergi dalam pelindungan, pengembangan dan pembinaan budaya kretek secara berkelanjutan.

Meski demikian, rekomendasi FGD memberikan penegasan penting. Pengakuan kretek sebagai warisan budaya tidak diarahkan sebagai promosi atau kampanye konsumsi rokok.

Fokus utamanya adalah melindungi nilai sejarah, pengetahuan, keterampilan, tradisi dan kehidupan sosial masyarakat yang berkembang di dalam ekosistem kretek, dengan tetap memperhatikan aspek kesehatan, ketenagakerjaan, lingkungan dan tanggung jawab sosial.

Dari ruang seminar di Kudus, satu pesan pun mengemuka: kretek bukan sekadar soal masa lalu dan bukan pula sekadar produk. Ada perjalanan manusia, keterampilan yang diwariskan, pengetahuan yang terus dipraktikkan dan kehidupan sosial yang membentuknya.

Kini, tantangan terbesarnya bukan hanya mencatat sejarah itu dalam buku atau museum. Seperti pesan yang mengemuka dalam seminar, sebuah warisan baru benar-benar hidup ketika masih ada orang yang bersedia menerima dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Sebab, ketika pewarisnya berhenti, sebuah tradisi yang panjang pun bisa perlahan kehilangan denyut kehidupannya. (YM/YM)


Post Views: 42

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *