0 4 min 3 mths

KUDUS, ISKNEWS.com – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan investasi paling penting dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, kualitas pendidikan menjadi salah satu faktor yang menentukan kemajuan daerah sekaligus masa depan bangsa.

Hal itu disampaikan Sam’ani saat menghadiri peringatan Milad ke-25 TK Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain Kudus yang juga dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti.

Sam’ani mengatakan, anak-anak yang mendapatkan pendidikan berkualitas sejak usia dini akan memiliki bekal yang kuat untuk meraih cita-cita sekaligus menjadi calon pemimpin di masa depan.

“Anak-anak didik lulusan TK Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain ini saya yakin akan menjadi anak-anak yang pintar dan berkualitas. Pendidikan dan pengalaman menjadi bekal mereka untuk meraih masa depan yang diinginkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingkat pendidikan masyarakat juga menjadi salah satu indikator penting dalam pembangunan daerah. Oleh karena itu,

Pemerintah Kabupaten Kudus terus berupaya meningkatkan angka partisipasi sekolah sekaligus menekan angka putus sekolah.

“Apapun pekerjaan kita, tanpa pendidikan akan sulit berkembang. Karena itu pendidikan menjadi investasi terbaik untuk menyiapkan generasi emas tahun 2045,” katanya.

Sam’ani juga mengapresiasi kiprah TK Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain yang selama 25 tahun berkontribusi mencetak generasi penerus bangsa melalui pendidikan karakter dan pembelajaran berkualitas.

“Saya mengucapkan selamat Milad ke-25. Semoga semakin maju dan terus memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan di Kabupaten Kudus,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sam’ani juga menyampaikan komitmen Pemkab Kudus dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru swasta.

Ia mengungkapkan, saat ini Pemerintah Kabupaten Kudus mengalokasikan anggaran sekitar Rp110 miliar untuk memberikan tunjangan kesejahteraan kepada sekitar 9.000 guru swasta, mulai dari guru PAUD, TK, MI hingga jenjang pendidikan lainnya.

“Guru swasta di Kabupaten Kudus kami berikan tunjangan kesejahteraan sebesar Rp1 juta setiap bulan. Meskipun kondisi ekonomi global cukup berat, kami tetap berkomitmen memperhatikan kesejahteraan para pendidik,” jelasnya.

Menurut Sam’ani, dukungan pemerintah daerah tersebut melengkapi berbagai program pemerintah pusat dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional sehingga diharapkan mampu memotivasi para guru untuk semakin semangat mendidik anak-anak Indonesia.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang hadir sebagai pembicara utama menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama pembentukan karakter, kecerdasan, dan kesiapan belajar anak.

Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa masa emas perkembangan anak terjadi sejak dalam kandungan hingga usia dini. Karena itu, pendidikan pada jenjang taman kanak-kanak memiliki peran sangat penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.

“Kalau pendidikan diibaratkan menanam pohon, maka pendidikan anak usia dini adalah proses menumbuhkan akar. Akar yang kuat akan menghasilkan pohon yang kokoh,” ujar Abdul Mu’ti.

Menteri juga mengungkapkan bahwa pemerintah mulai tahun ini memasukkan taman kanak-kanak dalam program Wajib Belajar 13 Tahun.

Selain itu, peserta didik TK dari keluarga sasaran juga mulai menerima Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp450 ribu per tahun.

Tak hanya itu, pemerintah juga memperluas program peningkatan kompetensi guru melalui beasiswa kuliah S-1 bagi guru yang belum berkualifikasi sarjana, termasuk guru PAUD dan TK, agar kualitas pendidikan anak usia dini semakin meningkat.

Abdul Mu’ti mengingatkan agar proses pembelajaran di taman kanak-kanak tidak membebani anak dengan target akademik yang berlebihan.

Menurutnya, fokus utama pendidikan usia dini adalah membangun karakter, melatih kemampuan sosial, motorik, bahasa, kreativitas, serta menumbuhkan rasa percaya diri anak.

“Yang paling penting di TK adalah anak merasa senang belajar, belajar bersosialisasi, membangun karakter, keberanian, dan kebiasaan baik. Jangan sampai pendidikan usia dini justru membebani anak dengan hal-hal yang belum sesuai tahap perkembangannya,” pungkasnya. (YM/YM)


Post Views: 32

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *