0 3 min 7 mths

Kudus, Liputan7.Net – Komitmen menjaga kekhusyukan ibadah puasa di bulan Ramadan 1447 Hijriyah membuat SMK Muhammadiyah Undaan, Kabupaten Kudus, memilih menghentikan sementara penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keputusan itu diambil bukan karena persoalan menu, melainkan demi menjaga suasana belajar yang kondusif selama bulan suci.

Pihak sekolah secara resmi melayangkan surat pernyataan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak mendistribusikan menu MBG ke lingkungan sekolah selama Ramadan.

Kepala SMK Muhammadiyah Undaan, Abdul Rozaq, menegaskan kebijakan tersebut merupakan inisiatif internal sekolah.

“Ada beberapa pertimbangan. Biasanya ada yang udzur syar’i, meskipun menunya menu kering dan siap makan, takutnya mengganggu murid lain yang sedang berpuasa,” ujar Rozaq saat dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, siswa yang berhalangan puasa seperti karena haid memang diperbolehkan tidak berpuasa. Namun jika makanan tetap dibagikan di sekolah, dikhawatirkan akan menimbulkan situasi kurang nyaman bagi siswa lain yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, pihak sekolah juga mempertimbangkan adanya sebagian siswa yang dengan sengaja tidak berpuasa. Jika MBG tetap diberikan, sekolah merasa memiliki tanggung jawab sosial ketika siswa mengonsumsi makanan tersebut di ruang publik saat masih mengenakan seragam.

“Saya juga menghindari kalau tanpa MBG saja anak-anak kadang masih sembunyi-sembunyi ke warung. Kalau pas mereka pulang masih berseragam di jalan sambil nyemilin jajan MBG atau buah dari MBG, kita menghindari itu,” terangnya.

Pertimbangan lain adalah efektivitas waktu pembelajaran. Selama Ramadan, durasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) lebih singkat dari hari biasa. Proses pembagian MBG yang bisa memakan waktu 30 menit hingga satu jam dinilai berpotensi mengurangi waktu belajar efektif.

“Waktu KBM kan sangat pendek kalau Ramadan, kalau kita tersita untuk pembagian MBG, itu kan mengganggu waktu KBM efektif,” tandasnya.

Sebelum memutuskan menolak sementara, Rozaq mengaku sempat bernegosiasi dengan pihak SPPG agar distribusi MBG selama Ramadan diganti dalam bentuk sembako yang bisa dibagikan seminggu sekali atau menjelang libur sekolah, seperti beras atau minyak goreng. Namun usulan tersebut tidak mendapat persetujuan.

“Nanti kalau sudah tidak Ramadan akan menerima lagi, ini hanya untuk selama bulan puasa saja. Dari SPPG juga tidak ada apa-apa asalkan membuat surat pernyataan atas inisiatif sendiri,” bebernya.

Ia menegaskan, penolakan ini sama sekali bukan karena kualitas menu MBG yang merupakan bagian dari program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, langkah tersebut murni sebagai bagian dari pendidikan karakter agar siswa lebih disiplin dan menghargai ibadah puasa.

“Kalau upaya ini sudah kita lakukan tapi anak masih tidak berpuasa, berarti kan itu sudah di luar tanggung jawab kami,” tukasnya.

Sejak hari pertama masuk sekolah pada 23 Februari 2026, SMK Muhammadiyah Undaan sudah tidak lagi menerima pendistribusian MBG dan berkomitmen untuk menghentikannya selama Ramadan penuh. (YM/YM)


Post Views: 8



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *