KUDUS, Liputan7.Net – Sudah dua bulan Bima, remaja 14 tahun yang merupakan siswa kelas 9 MTs swasta di Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tak lagi bisa berangkat sekolah seperti kawan-kawannya. Penyakit yang dideritanya membuat penglihatannya kini tak lagi jelas, sementara tubuhnya semakin lemah hingga untuk berdiri dan berjalan pun harus dipapah.
Di usia yang seharusnya diisi dengan aktivitas belajar, bermain dan bercanda bersama teman-temannya, Bima justru harus lebih banyak berada di rumah. Seragam sekolahnya untuk sementara tersimpan, sementara hari-harinya diisi dengan kontrol dan pemulihan setelah menjalani perawatan medis.
Bima merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia seharusnya bersiap naik ke kelas IX. Namun, kondisi kesehatannya membuat aktivitas sekolah harus dihentikan sementara.
Perjalanan panjang tersebut bermula ketika Bima mengalami sejumlah keluhan saat masa liburan sekolah. Ia sempat mengalami mual, muntah dan sakit kepala. Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami kejang.
“Awalnya muntah, pusing, kemudian kejang,” kata ibunya, Mas’amah (37), Rabu (12/8/2026).
Melihat kondisi anaknya yang semakin memburuk, keluarga kemudian membawa Bima untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. Bima sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudus.
Setelah beberapa kali mendapatkan penanganan, Bima kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Mardi Rahayu. Di rumah sakit tersebut, ia menjalani operasi pemasangan selang untuk mengeluarkan cairan dari otak.
Bima selanjutnya menjalani perawatan intensif selama sekitar 30 hari. Dari rangkaian pemeriksaan yang dilakukan, dokter kemudian menyampaikan diagnosis tumor otak.
Keluarga pun mendapat informasi mengenai rencana penanganan lanjutan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Semarang. Namun, tindakan tersebut menunggu kondisi luka Bima membaik.
“Katanya tumor otak. Nanti kalau lukanya sudah baik, akan dikirim ke Kariadi,” ujar Mas’amah.
Kabar mengenai kemungkinan tindakan lanjutan tersebut menjadi beban tersendiri bagi Mas’amah. Ia bahkan tak kuasa menahan air mata ketika membayangkan putranya kembali harus menjalani operasi.
Di balik ketegarannya mendampingi Bima, tersimpan ketakutan seorang ibu terhadap kemungkinan terburuk. Apalagi, Bima masih sangat muda dan kondisi fisiknya belum pulih.
“Saya takut kehilangan anak saya,” ucap Mas’amah dengan suara bergetar.
Meski rasa takut terus menghantui, Mas’amah tetap berusaha kuat. Ia terus mendampingi Bima menjalani kontrol dan perawatan, sembari menunggu kondisi luka membaik sebelum mendapat penanganan lanjutan.
Saat ini, kemampuan komunikasi Bima masih baik. Ia masih dapat berbicara dengan lancar dan makan seperti biasa. Namun, penglihatannya mengalami gangguan.
“Komunikasinya bisa, lancar. Cuma penglihatannya yang terganggu,” tutur Mas’amah.
Gangguan penglihatan itu membuat aktivitas Bima semakin terbatas. Untuk berjalan, tubuhnya masih harus ditopang. Bahkan untuk bangkit dan mengangkat tubuhnya sendiri, Bima belum mampu melakukannya tanpa bantuan.
Kondisi tersebut membuat Bima harus menepi dari sekolah selama dua bulan terakhir. Ia belum dapat kembali mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya.
Bagi Bima, sekolah yang sebelumnya menjadi bagian dari rutinitas kini menjadi sesuatu yang harus ditunggu. Ia harus lebih dulu memulihkan kondisi tubuhnya sebelum bisa kembali duduk di bangku kelas dan bertemu kawan-kawannya.
Di tengah perjuangan itu, pengobatan Bima ditanggung melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, keluarga tetap menghadapi biaya perjalanan untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan, terutama jika nantinya harus bolak-balik dari Kudus ke Semarang.
Ayah Bima sehari-hari bekerja sebagai pekerja bangunan. Sementara Mas’amah merupakan ibu rumah tangga. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, keduanya berusaha tetap mendampingi Bima dalam setiap tahapan pengobatan.
Bagi Mas’amah, tidak ada yang lebih penting daripada kesembuhan anaknya. Ia ingin melihat Bima kembali sehat, mampu berjalan tanpa dipapah dan bisa melihat dengan lebih jelas.
“Saya hanya ingin anak saya sehat, cuma itu saja,” ucapnya.
Mas’amah juga berharap masyarakat turut mendoakan kesembuhan putranya. Ia tidak meminta banyak hal. Di tengah perjuangan keluarga menjalani pengobatan, doa menjadi harapan yang ingin terus mengiringi langkah Bima.
“Saya tidak minta apa-apa, cuma bantuan doa saja. Semoga adiknya sehat,” katanya.
Kini keluarga masih menunggu kondisi luka Bima membaik sebelum mendapat penanganan lanjutan di RSUP Dr Kariadi Semarang.
Dua bulan sudah Bima tidak lagi berada di tengah teman-temannya di sekolah. Buku pelajaran dan seragam untuk sementara tergantikan oleh jadwal kontrol dan proses pemulihan.
Namun, harapan untuk kembali ke sekolah belum padam. Di tengah penglihatan yang tak lagi jelas dan tubuh yang belum mampu berdiri sendiri, Bima masih menyimpan harapan untuk kembali menjalani hari-hari seperti remaja seusianya.
Dan di sampingnya, Mas’amah terus bertahan. Menahan cemas, menyeka air mata dan mendampingi setiap langkah pengobatan anaknya.
Sebab bagi seorang ibu, harapan itu sederhana: Bima kembali sehat, kembali berdiri dengan kuat, dan suatu hari nanti bisa kembali mengenakan seragam sekolahnya. (YM/YM)
Post Views: 19
