KUDUS, Liputan7.Net – Gangguan lalat yang dirasakan di lingkungan SD 3 Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, dinilai telah menghambat kenyamanan siswa dan guru dalam menjalankan aktivitas di sekolah. Pihak sekolah berharap persoalan tersebut segera mendapat penanganan karena keberadaan lalat semakin mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Pengajar SD 3 Bulungcangkring, Tony Sunarto, menyampaikan keluhan tersebut ditengah audiensi sekaligus aksi warga di depan kandang ayam milik PT Anthony Jaya Perkasa (AJP) Farm, Kamis (1/10/2026).
Tony menuturkan, keberadaan lalat sebenarnya sudah lama dirasakan di lingkungan sekolah. Namun, pihak sekolah selama ini memilih tidak memperbesar persoalan tersebut. Kondisinya kemudian semakin parah hingga mengganggu kegiatan pembelajaran dalam beberapa waktu terakhir.
“Fenomena lalat ini memang sangat berdampak di sekolah. Sebenarnya sudah lama, tetapi kami diam. Sekarang sudah sangat keterlaluan. Mulai tanggal 15 sampai 26 September kemarin menjadi puncaknya dan dampaknya terasa terhadap kegiatan belajar mengajar,” kata Tony.
Menurut Tony, konsentrasi siswa menjadi mudah teralihkan ketika proses pembelajaran berlangsung. Lalat yang masuk ke ruang kelas membuat siswa berulang kali melaporkan keberadaannya kepada guru.
“Anak-anak baru fokus sedikit sudah bilang, ‘Pak, ada lalat’. Di atas meja juga banyak,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Tony, tidak hanya terjadi di ruang kelas. Area kantor guru juga ikut terdampak sehingga para tenaga pendidik harus beraktivitas dalam kondisi yang sama.
“Kami sebagai pendidik sangat prihatin karena anak-anak terganggu, kami juga ikut terganggu saat mengajar. Kami duduk saja dikerubung lalat. Tempat yang seharusnya nyaman seperti kantor guru justru banyak lalat,” ungkapnya.
Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya mengurangi jumlah lalat dengan memasang lem atau perangkap lalat. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi banyaknya lalat yang masuk ke lingkungan sekolah.
Tony juga menyoroti kondisi ketika siswa mendapatkan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, keberadaan lalat membuat siswa merasa tidak nyaman saat menyantap makanan.
“Apalagi ketika makan MBG, lalatnya berkumpul. Sudah ada video yang menunjukkan anak-anak makan sambil dikerubungi lalat,” jelasnya.
Ia menegaskan, keluhan sekolah bukan ditujukan kepada program MBG. Persoalan yang menjadi perhatian adalah banyaknya lalat yang membuat aktivitas makan siswa menjadi terganggu.
“Ini sebenarnya bukan karena MBG. Mungkin situasi lalatnya yang membuat risih ketika makan karena terus diganggu,” tutur Tony.
Tony berharap persoalan tersebut segera ditangani sehingga lingkungan sekolah dapat kembali menjadi tempat yang nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik. Menurutnya, kondisi lingkungan yang terbebas dari gangguan merupakan bagian penting untuk mendukung proses pembelajaran.
Sementara itu, gangguan lalat juga menjadi keluhan masyarakat Desa Bulungcangkring. Warga menilai persoalan tersebut berkaitan dengan keberadaan sejumlah kandang ayam yang berada di sekitar permukiman.
Perwakilan warga, Nor Ahmad Effendi, mengatakan masyarakat sebelumnya telah mengikuti mediasi sekitar enam bulan lalu. Pertemuan tersebut melibatkan warga, pengelola kandang, pemerintah desa, serta unsur keamanan.
Dalam mediasi itu, sejumlah kesepakatan disebut telah dibuat, termasuk mengenai kebersihan kandang. Kandang yang dinilai tidak mampu menjaga kondisi kebersihan diminta tidak diisi ayam atau menghentikan kegiatan untuk sementara.
“Enam bulan lalu sudah ada mediasi. Ada kesepakatan kalau kandang tidak bersih, pihak pengelola bersedia tidak mengisi ayam atau tidak beroperasi,” kata Nor Ahmad.
Namun, Nor Ahmad menyebut gangguan lalat masih terus dirasakan setelah mediasi tersebut. Ia menilai kesepakatan yang telah dibuat belum sepenuhnya dijalankan oleh pihak terkait.
“Setelah tanda tangan perjanjian, enam bulan sampai sekarang tidak ada tindakan. Kesepakatannya seperti dilanggar,” ujarnya.
Menurutnya, warga Bulungcangkring telah menghadapi persoalan lalat selama bertahun-tahun. Warga sebelumnya berusaha menyelesaikan masalah tersebut melalui komunikasi, tetapi gangguan yang dirasakan dinilai semakin berat.
“Kalau lalat sudah berpuluh-puluh tahun. Kami sebagai masyarakat sudah berusaha sabar, tetapi ketika kami sabar, kondisinya semakin menjadi-jadi,” ungkapnya.
Dukuh Kalidoro Kidul menjadi salah satu kawasan yang disebut cukup terdampak. Bahkan, keberadaan lalat kini turut dirasakan di lingkungan sekolah yang berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari kandang terdekat.
Atas kondisi tersebut, warga meminta pemerintah mengambil langkah konkret terhadap kandang yang dinilai belum menjalankan kesepakatan pengelolaan lingkungan. Penghentian sementara operasional menjadi salah satu opsi yang disuarakan apabila gangguan tidak dapat dikendalikan.
Kepala Desa Bulungcangkring, Sulakim, mengatakan aksi warga merupakan bagian dari tindak lanjut atas persoalan yang sebelumnya telah dibahas bersama pemerintah desa dan pengelola kandang.
Wakil Bupati Kudus Belinda Birton yang turut hadir dalam penanganan terbaru meminta persoalan tersebut segera ditindaklanjuti. Pemerintah desa kemudian mendapatkan waktu satu minggu untuk melakukan langkah awal.
“Kami diberi waktu satu minggu untuk ada tindakan,” kata Sulakim.
Pemdes Bulungcangkring selanjutnya akan mengundang para pengelola kandang untuk membahas keluhan warga sekaligus menyampaikan arahan dari pemerintah daerah. Sekitar 21 kandang disebut akan masuk dalam pembahasan tersebut.
“Besok Sabtu kami akan memanggil pengelola kandang. Keluhan warga dan deadline dari Ibu Wakil Bupati akan kami sampaikan,” ujarnya.
Pemerintah desa juga mendorong adanya pertemuan antara pengelola kandang dan masyarakat. Dialog tersebut diharapkan dapat menghasilkan langkah yang jelas untuk mengurangi gangguan lalat sekaligus memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan kandang.
Sulakim mengatakan penutupan sementara dapat dipertimbangkan bagi kandang yang tidak menjalankan ketentuan pengelolaan lingkungan. Namun, keputusan tersebut akan melihat hasil evaluasi terhadap kondisi masing-masing kandang.
“Kalau kandang sudah melaksanakan dengan baik, insyaallah tetap dibuka. Tetapi kalau tidak mengindahkan atau tidak melakukan dengan benar, mungkin bisa ditutup dan tidak beroperasi,” katanya.
Pemerintah desa berharap proses evaluasi dan dialog dengan para pengelola dapat segera menghasilkan penyelesaian. Dengan begitu, gangguan lalat di permukiman maupun SD 3 Bulungcangkring dapat ditekan dan aktivitas warga serta pembelajaran siswa kembali berlangsung dengan nyaman. (AS/YM)
Post Views: 13
