KUDUS, ISKNEWS.com – Momen perpisahan di RA Tarbiyatul Athfal, Dukuh Jelak, Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tahun ini dikemas dengan cara yang berbeda.
Alih-alih hanya menggelar acara seremonial, para guru mengajak siswa Kelompok B mengabadikan kenangan masa belajar melalui produksi dua film pendek yang melibatkan seluruh anak sebagai pemeran.
Dua film berjudul “RA Mau Tutup!!!” dan “Mencari Kenangan” tersebut menjadi media bagi 29 siswa Kelompok B Tahun Ajaran 2025/2026 untuk mengekspresikan diri sekaligus menyimpan memori masa kanak-kanak sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
Kepala RA Tarbiyatul Athfal, I’in Ainatuz Zahiroh, S.Pd., mengatakan pembuatan film bukan sekadar dokumentasi perpisahan, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran yang dirancang agar anak-anak memperoleh pengalaman baru.
“Tujuan utama film ini adalah mengabadikan kenangan masa belajar anak di RA dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Selain menjadi kenang-kenangan, proses pembuatannya juga melatih keberanian, kreativitas, dan kerja sama anak-anak,” ujarnya.
Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri oleh para guru, mulai dari penyusunan naskah, penyutradaraan, pengambilan gambar, hingga penyuntingan video. Badriyah, S.Pd., dan Eva Yuli Nor Farika, S.Pd., yang merupakan guru Kelompok B, turut berperan sebagai pemeran bersama seluruh siswa.
Proses syuting berlangsung selama tiga hari menjelang hari terakhir sekolah. Waktu tersebut dipilih agar suasana emosional menjelang perpisahan dapat terekam secara alami dan menghadirkan kesan yang lebih mendalam.
Menurut I’in, pihak sekolah sengaja memproduksi dua film agar seluruh siswa mendapatkan kesempatan tampil yang seimbang.
“Karena jumlah siswa sebanyak 29 anak, kami membuat dua film agar setiap anak mendapatkan porsi frame, adegan, dan dialog yang lebih merata. Kami ingin semua anak merasakan pengalaman yang sama dan menjadi bagian penting dari cerita,” katanya.
Film pertama, “RA Mau Tutup!!!” berdurasi 4 menit 41 detik, mengisahkan Arsyal yang salah memahami percakapan guru tentang berakhirnya tahun ajaran. Ia mengira sekolah benar-benar akan ditutup, sehingga kabar tersebut membuat teman-temannya sedih karena takut kehilangan tempat belajar, bermain, serta bertemu guru dan sahabat.
Sementara film kedua, “Mencari Kenangan” berdurasi 9 menit 2 detik mengangkat perjalanan Bu Badriyah mengajak anak-anak menyusuri berbagai sudut sekolah yang menyimpan kenangan. Dari ruang kelas hingga area bermain, setiap kelompok siswa menceritakan pengalaman yang pernah mereka alami selama belajar di RA Tarbiyatul Athfal.
I’in menuturkan, setiap anak memiliki kisah yang layak dikenang sehingga sekolah ingin merangkainya menjadi sebuah karya sederhana yang dapat dikenang hingga dewasa.
“Setiap anak memiliki cerita dan kenangan yang berharga. Film ini adalah cara kami merangkai cerita-cerita kecil itu menjadi sebuah kenangan besar yang akan selalu mereka ingat ketika melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya,” tuturnya.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari para orang tua. Salah satu wali murid, Retno Nitriasih, menilai film pendek ini bukan hanya menjadi dokumentasi perpisahan, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat dan rasa percaya diri.
“Film ini bukan hanya menjadi kenang-kenangan yang indah bagi anak-anak, tetapi juga menjadi sarana untuk membimbing dan mengembangkan bakat serta talenta mereka. Kami sebagai orang tua merasa bangga melihat anak-anak tampil percaya diri dan berani mengekspresikan diri di depan kamera,” ungkapnya.
Melalui karya tersebut, RA Tarbiyatul Athfal berharap inovasi sederhana ini dapat menginspirasi lembaga pendidikan lain untuk menghadirkan pengalaman belajar yang kreatif, menyenangkan, sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi anak-anak.
Kedua film itu dapat disaksikan melalui kanal YouTube RA Tarbiyatul Athfal. (YM/YM)
Post Views: 27
