KUDUS, Liputan7.Net – Abu dan debu yang muncul saat aktivitas produksi Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus kembali menjadi keluhan warga sekitar. Debu yang terbawa angin disebut masuk hingga permukiman Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, sehingga mengotori rumah maupun kendaraan warga.
Keluhan tersebut kembali dirasakan masyarakat seiring berlangsungnya musim giling tebu. Warga menyebut debu tidak hanya membuat lingkungan cepat kotor, tetapi juga mengganggu kenyamanan ketika beraktivitas di dalam maupun luar rumah.
Salah seorang warga berinisial ML mengatakan, kondisi debu paling terasa pada malam hari. Debu disebut menempel di berbagai bagian rumah dan kendaraan meski warga telah berulang kali melakukan pembersihan.
“Debunya itu tebal, apalagi kalau malam hari bisa lebih parah. Lantai rumah, motor, dan mobil itu berdebu semuanya. Bahkan sudah dibersihkan atau disapu nanti muncul lagi debunya,” ujarnya.
Menurut ML, debu yang beterbangan juga membuat dirinya merasa tidak nyaman. Ia mengaku beberapa kali mengalami mata kelilipan hingga terasa sakit ketika berada di lingkungan rumah.
“Kelilipan terus membuat tidak nyaman, kadang mata menjadi sakit. Harus maskeran ketika keluar rumah,” katanya.
Keluhan mengenai debu juga disampaikan warga Rendeng, berinisial T. Ia menilai persoalan tersebut bukan baru terjadi tahun ini, melainkan kembali muncul setiap kali musim giling tebu berlangsung.
“Setiap musim giling begini, debunya kalau disapu itu lumayan banyak. Kalau kelilipan itu sakit, jadi harus beli obat mata,” tegasnya.
Warga berharap pengelola PG Rendeng melakukan evaluasi dan menyiapkan langkah pencegahan yang lebih maksimal selama kegiatan produksi berlangsung. Mereka meminta persoalan debu tidak hanya ditangani ketika keluhan masyarakat muncul, tetapi dapat diminimalkan sejak awal musim giling.
Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Manager Teknik PG Rendeng, Yuke Adetya menjelaskan bahwa abu yang dihasilkan dari aktivitas pabrik berasal dari proses pembakaran biomassa berupa ampas tebu yang digunakan sebagai bahan bakar boiler.
Menurut Yuke, ampas tebu memiliki kandungan kalori yang dimanfaatkan untuk menghasilkan panas pada boiler. Namun, proses pembakaran tersebut juga menghasilkan residu berupa abu yang terbagi menjadi dua jenis, yakni bottom ash dan fly ash.
“Biomassa itu dari ampas tebu. Ampas tebu memiliki kandungan kalori sebagai pemanas untuk boiler, tetapi juga menghasilkan abu. Abu itu terdiri dari dua, yang berat turun ke bawah atau bottom ash, sedangkan yang berterbangan disebut fly ash,” ujar Yuke saat diwawancarai, Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, fly ash memiliki karakteristik berupa partikel yang sangat halus sehingga lebih mudah terbawa udara. Sementara itu, bottom ash mempunyai bobot lebih berat sehingga cenderung mengendap di bagian bawah.
Untuk menangani fly ash, PG Rendeng telah dilengkapi perangkat electrostatic precipitator (ESP). Sistem tersebut berfungsi menangkap partikel abu yang terbawa gas buang sebelum menyebar ke lingkungan sekitar.
Namun, Yuke mengakui kinerja ESP saat ini belum dapat dimaksimalkan. Perangkat tersebut memiliki dua field atau kompartemen di sisi utara dan selatan, tetapi salah satu bagian mengalami kendala ketika arus dinaikkan.
“Untuk ESP kami ada dua field, sisi utara dan selatan. Saat ini kami optimalkan di field satu. Ketika field dua dinaikkan arusnya untuk menangkap abu, justru terjadi trip. Karena itu kami membatasi pengaturan arus untuk menghindari kejadian tersebut,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat kemampuan penangkapan abu belum optimal. Perbaikan menyeluruh belum dapat dilakukan dalam waktu dekat lantaran teknisi harus masuk ke bagian dalam perangkat dan pemeriksaan tersebut membutuhkan boiler dalam kondisi tidak beroperasi.
Pengelola PG Rendeng berencana melakukan perbaikan utama setelah musim giling selesai. Akhir musim giling diperkirakan berlangsung sekitar 15 Oktober 2026.
Sebelum perbaikan menyeluruh dilakukan, pihak pabrik akan melakukan pengecekan awal terhadap panel sistem. Pengelola juga berencana mendatangkan teknisi.
“Untuk engineer, pada tahap pertama akan dilakukan pengecekan panel. Teknisi direncanakan datang ke pabrik pada akhir Agustus. Untuk inspeksi bagian dalam, rencananya dilakukan sekitar awal hingga pertengahan November karena kondisi di dalam perangkat tidak memungkinkan dilakukan saat boiler masih beroperasi,” katanya.
Sambil menunggu perbaikan tersebut, PG Rendeng menerapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengurangi penyebaran abu. Salah satunya dengan memasang beberapa titik spray air di area pabrik.
Yuke mengatakan, penyemprotan dilakukan untuk menangkap partikel abu ringan yang berada di udara. Abu yang terkena air diharapkan turun sehingga tidak mudah terbawa angin menuju kawasan permukiman.
“Untuk penanganan jangka pendek, kami memasang beberapa spray. Abu yang berada di atas atau fly ash akan ditangkap air sehingga jatuh. Titik spray akan terus kami evaluasi dan ditambah jika diperlukan,” ungkapnya.
Selain spray, pengelola juga memasang paranet pada sejumlah titik. Upaya tersebut dilakukan sebagai penghalang tambahan agar partikel abu tidak langsung terbawa angin ke luar area pabrik.
Partikel yang menempel pada paranet selanjutnya dapat dibersihkan menggunakan penyemprotan air. Pengelola menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari mitigasi jangka pendek sembari menunggu perbaikan sistem ESP.
Sementara untuk bottom ash, penanganannya dilakukan dengan pembasahan secara rutin. Abu yang memiliki bobot lebih berat tersebut ditampung dan disiram menggunakan air agar tidak kembali beterbangan.
“Untuk bottom ash kami celup dan basahi dengan air karena risikonya lebih besar kalau sampai terbang. Setiap hari dilakukan pembasahan sampai ada pihak yang mengambilnya,” terangnya.
Abu yang telah dikumpulkan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak lain, salah satunya sebagai bahan untuk pupuk organik. Pengambilan dilakukan setelah abu ditangani dan dibasahi sesuai prosedur yang diterapkan di lingkungan pabrik.
Yuke menegaskan, pengelola terus melakukan evaluasi terhadap langkah mitigasi yang telah diterapkan. Penambahan titik spray juga dimungkinkan apabila hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat area yang membutuhkan penanganan.
“Kami sudah punya SOP dan checklist, termasuk dokumentasi kegiatan pembasahan. Mitigasi jangka pendek ini kami lakukan untuk meminimalkan penyebaran abu di sekitar wilayah PG Rendeng,” pungkasnya. (AS/YM)
Post Views: 29
