0 5 min 2 mths

KUDUS, Liputan7.Net – Desa Jatikulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menorehkan prestasi membanggakan pada peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Desa tersebut berhasil meraih Peringkat I Desa Mandiri Sampah Kategori Utama tingkat Jawa Tengah Tahun 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kepada Kepala Desa Jatikulon Hery Supriyanto, didampingi Bupati Kudus Samani Intakhoris, dalam rangkaian upacara peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah yang dipusatkan di Alun-Alun Boyolali, Rabu (19/8/2026).

Prestasi tersebut menjadi bukti keberhasilan Desa Jatikulon dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa dan berbagai pihak. Capaian itu juga sejalan dengan semangat Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah yang mengusung tema “Gumregut Nyawiji”, yakni bergerak bersama dan bersatu membangun Jawa Tengah.

Anggota DPRD Kudus yang juga Sekretaris Komisi C, Rochim Sutopo, sekaligus sesepuh warga Desa Jatikulon, menyambut baik capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan itu menjadi kebanggaan bagi warga dan Kabupaten Kudus sekaligus hadiah pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477.

“Ini menjadi kebanggaan bagi Desa Jatikulon dan Kabupaten Kudus. Prestasi ini merupakan hasil kerja bersama dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana prestasi ini bisa berkelanjutan,” ujar Rochim.

Rochim mengatakan, keberlanjutan tersebut membutuhkan perhatian terhadap perawatan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan sampah. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat juga harus dilakukan secara konsisten agar kesadaran mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan sampah tidak berhenti setelah penghargaan diraih.

“Perawatan dan pemeliharaan sarana prasarana harus terus dilakukan. Sosialisasi juga harus berkelanjutan. Sampah ini sudah menjadi problem sosial, sehingga penyelesaiannya membutuhkan kerja sama. Setiap keluarga harus memiliki kesadaran tentang sampah dan pola hidup sehat,” katanya.

Menurut Rochim, keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah desa maupun petugas kebersihan. Setiap rumah tangga memiliki peran penting sejak dari sumber sampah, terutama dalam melakukan pemilahan dan mengurangi sampah yang dibuang.

“Kalau setiap keluarga sadar dan mau mengelola sampahnya dengan baik, persoalan di tingkat desa akan jauh lebih mudah ditangani. Jadi ini bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kualitas hidup masyarakat,” lanjutnya.

Rochim sendiri memiliki andil dalam mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah di Desa Jatikulon. Upaya tersebut dilakukan mulai dari mendorong pengadaan kendaraan roda tiga atau bentor untuk menunjang pengangkutan sampah hingga melakukan komunikasi dan lobi kepada pihak swasta agar membantu menghadirkan instalasi insinerator di wilayah desa.

Menurutnya, teknologi hanya menjadi salah satu bagian dari sistem pengelolaan sampah. Tanpa kesadaran masyarakat, pemeliharaan sarana prasarana dan tata kelola yang baik, keberadaan teknologi tidak akan memberikan hasil maksimal.

Kepala Desa Jatikulon Hery Supriyanto mengatakan, desanya mendapatkan mesin insinerator melalui hibah Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak April 2025. Kehadiran mesin tersebut memberikan harapan baru terhadap sistem pengelolaan sampah yang lebih cepat dan efisien.

Namun, menurut Hery, memiliki mesin tidak serta-merta membuat persoalan sampah selesai. Sebelum dilakukan pembenahan sistem, kemampuan pengolahan di TPS masih jauh dari volume sampah yang masuk setiap harinya.

“Di tingkat hulu, edukasi pemilahan sampah dilakukan kepada rumah tangga sebagai produsen atau penghasil sampah. Kemudian, prosedur dan alur pengangkutan sampah ditata pada tingkat tengah. Sementara di tingkat hilir, dilakukan optimalisasi kinerja operasional TPS, termasuk pemanfaatan mesin insinerator. Penataan tersebut membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih terukur dan tidak lagi bertumpu pada pembuangan ke TPA,” ungkapnya.

Hery mengatakan, saat ini sampah yang masuk ke TPS setiap harinya dapat diproses hingga tuntas tanpa menumpuk.

“Dulu TPS masih penuh dengan sampah setiap hari. Kini sampah harian yang masuk ke TPS selesai diproses dan setiap sore kondisi TPS selalu bersih dan rapi,” katanya.

Perubahan paling signifikan terlihat dari frekuensi pembuangan sampah ke TPA. Sebelumnya, sampah dibuang sebanyak 16 hingga 18 kali dalam sepekan atau sekitar 70 kali dalam sebulan menggunakan armada dump truck.

Dengan demikian, operasionalisasi TPS dengan dukungan optimalisasi teknologi insinerator berhasil mengurangi pembuangan sampah ke TPA hingga 94 persen.

Adapun sampah yang masuk ke TPS mencapai sekitar enam ton setiap hari. Komposisinya terdiri atas 48 persen sampah organik, 46 persen nonorganik, dua persen residu dan empat persen sampah bernilai ekonomis atau high value.

Sampah organik telah mampu dipilah sebanyak 42 persen dan kemudian diambil BLDF untuk diolah lebih lanjut. Sampah nonorganik diproses menggunakan insinerator, sedangkan sampah high value dipilah dan dijual secara langsung.

Sementara sampah residu dan sebagian sampah organik yang belum mampu diproses masih dibuang ke TPA. Sistem tersebut membuat volume sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan secara signifikan.

Keberhasilan Desa Jatikulon meraih peringkat pertama Desa Mandiri Sampah Kategori Utama tingkat Jawa Tengah Tahun 2026 menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat ditangani melalui kolaborasi, inovasi dan perubahan perilaku masyarakat. (YM/YM)


Post Views: 19

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *