0 4 min 46 minutes

KUDUS, Liputan7.Net — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menghadirkan mantan narapidana terorisme (napiter), Ustaz Imam Baihaqi atau dikenal dengan Abu Tholut, sebagai narasumber dalam kegiatan optimalisasi peran masyarakat untuk deteksi dini dan antisipasi gangguan keamanan terhadap kelompok radikal.

Kegiatan tersebut berlangsung di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (16/9/2026). Sekitar 80 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Pelajar Sebagai Garda Terdepan Ideologi, Mengoptimalkan Deteksi Dini dan Antisipasi Gangguan Radikalisme untuk Menjaga Keutuhan NKRI.

Kehadiran Abu Tholut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada generasi muda melalui pengalaman langsung. Mantan napiter tersebut diharapkan mampu menggambarkan bagaimana proses masuknya paham radikal hingga pola perekrutan yang pernah dialaminya.

Bupati Kudus, Samani Intakhoris, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama berbagai elemen masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan radikalisme.

Sambutan bupati Kudus, Samani Intakhoris dalam kegiatan optimalisasi peran masyarakat untuk deteksi dini dan antisipasi gangguan keamanan terhadap kelompok radikal.

Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan menyaring informasi, terlebih perkembangan teknologi digital membuat arus informasi dan komunikasi berlangsung sangat cepat.

“Di era digital ini perkembangannya sangat masif. Saya pesan agar bijak menggunakan media sosial, jangan saling adu argumen dan fitnah,” katanya.

Samani menilai penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat memicu munculnya persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, pelajar dan mahasiswa perlu membangun budaya komunikasi yang sehat serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus, Andrias Adi Wahyu Setiawan, mengatakan pengalaman Abu Tholut diharapkan menjadi pembelajaran bagi para peserta.

Menurutnya, narasumber tersebut dapat memberikan gambaran secara langsung mengenai proses perekrutan dan jalur yang digunakan dalam penyebaran paham radikal.

“Karena pengalaman sendiri, nglakoni sendiri, jadi bisa tahu caranya didudoi, trik-triknya masuk lewat jalur apa saat ini,” kata Andrias.

Andrias menambahkan, pelajar dan mahasiswa dilibatkan karena memiliki peran penting dalam memperkuat deteksi dini. Mereka juga diharapkan mampu menyebarkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di lingkungan masing-masing.

Ia menyebut kondisi keamanan di Kabupaten Kudus hingga saat ini relatif kondusif. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap munculnya paham yang mengarah pada radikalisme destruktif.

Pemantauan dan deteksi dini dilakukan melalui koordinasi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta unsur intelijen dari berbagai instansi.

Andrias mengatakan penguatan ideologi Pancasila menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah masyarakat, khususnya generasi muda, mudah terpengaruh paham radikal.

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, menurutnya, perlu terus ditanamkan mulai dari lingkungan sekolah dan keluarga.

“Sehingga tidak mudah terbawa paham-paham yang ke arah radikalisme. Dan juga tidak hanya berhenti di situ, tidak hanya kepada pelajarnya, nanti bisa menularkan kepada temannya, ke masyarakat, keluarga, dan tetangga sekitar tentunya,” ujarnya.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bahaya radikalisme, tetapi juga mendorong pelajar dan mahasiswa menjadi bagian dari masyarakat yang mampu mengenali potensi gangguan keamanan sejak dini tanpa melakukan tindakan main hakim sendiri. (YM/YM)


Post Views: 13

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *