SAPA PAGI :
Pagi ini kita belajar dari sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan:
tawuran pelajar diwarnai penggunaan senjata. Ini tentu bukan sekadar persoalan disiplin sekolah, tetapi sinyal bahwa generasi muda membutuhkan perhatian yang lebih nyata dari kita semua.
Deklarasi damai antar pelajar patut diapresiasi.
Setidaknya ada langkah untuk meredam konflik dan mengingatkan bahwa persaudaraan jauh lebih penting daripada permusuhan. Namun tantangan ke depan adalah bagaimana deklarasi itu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berubah menjadi gerakan bersama yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pelajar.
Mungkin sudah saatnya pendekatan kita tidak hanya fokus pada larangan, tetapi juga menghadirkan ruang penyaluran energi anak muda secara positif.
Misalnya:
- kompetisi olahraga antarsekolah yang rutin,
- wadah kreatif digital dan konten positif,
- forum diskusi pelajar,
- pelatihan keterampilan,
- hingga kegiatan sosial lintas sekolah agar hubungan mereka terbangun bukan lewat rivalitas, tetapi kolaborasi.
Karena di usia remaja, banyak anak sebenarnya hanya ingin diakui, didengar, dan memiliki ruang untuk menunjukkan jati dirinya.
Peran orang tua, sekolah, pemerintah, aparat, komunitas, hingga media juga perlu berjalan beriringan. Bukan hanya hadir saat ada masalah, tetapi aktif membangun ekosistem yang membuat anak-anak merasa punya masa depan dan lingkungan yang peduli pada mereka.
Tawuran tidak lahir begitu saja.
Kadang ia muncul dari komunikasi yang putus, pengawasan yang longgar, pergaulan yang salah arah, hingga minimnya ruang positif bagi anak muda berkembang.
Maka menjaga generasi muda tidak cukup hanya dengan hukuman.
Tetapi juga dengan inovasi, pendampingan, dan kehadiran bersama.
Karena masa depan daerah ini nantinya ada di tangan mereka.
ISK — Mengajak Melihat Masalah, Sekaligus Mendorong Solusi Bersama.( Mr )
Post Views: 74
