KUDUS, Liputan7.Net – Sebanyak 43 siswa SMP Negeri 2 Kudus terlibat dalam persiapan Festival Teater Pelajar Indonesia (FTPI) tahun ini. Melalui pementasan drama berjudul Dinding-Dinding Mawar Hitam, mereka tidak hanya berupaya meraih prestasi, tetapi juga mengasah kreativitas, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama.
Guru Kesiswaan SMPN 2 Kudus, Noor Kholis, mengatakan, FTPI menjadi ajang bagi sekolah untuk menunjukkan kemampuan siswa di bidang seni pertunjukan. Tahun ini, persaingan tingkat SMP diikuti 21 sekolah yang berpartisipasi dalam babak penyisihan.
“Ajang FTPI ini terbuka bagi sekolah yang ingin mendaftar. Untuk tahun ini, ada 21 SMP yang ikut berpartisipasi dalam ajang seleksi,” ujar Noor Kholis saat ditemui di lingkungan sekolah, Kamis (15/10/2026).
Babak penyisihan FTPI dijadwalkan berlangsung pada 9–17 November 2026. Dalam tahapan tersebut, tim juri mendatangi langsung sekolah peserta untuk menyaksikan sekaligus menilai pementasan. Penilaian melibatkan tiga juri profesional di bidang teater, yakni Ahmad Sofyan Hadi, Cornel Inos, dan Idamu Adji.
Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 19 November 2026. Dari peserta tingkat SMP dan SMA, hanya 10 pementasan terbaik yang akan melaju ke babak final. Para finalis nantinya tampil di panggung Djarum Oasis.
SMPN 2 Kudus memilih naskah Dinding-Dinding Mawar Hitam yang mengangkat konflik internal keluarga akibat sikap saling mengedepankan ego. Melalui cerita tersebut, para siswa ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya saling menghargai, memahami, dan bersedia mengalah demi menjaga keharmonisan rumah tangga.
“Naskah ini menceritakan konflik suatu keluarga yang intinya saling mementingkan ego masing-masing. Pesan moralnya, dalam kehidupan rumah tangga kita harus saling menghargai dan mau mengalah,” jelas Noor Kholis.
Sebanyak 43 siswa terlibat dalam produksi tersebut, dengan tujuh siswa berperan sebagai aktor di atas panggung. Sementara itu, siswa lainnya bertanggung jawab atas berbagai kebutuhan produksi, mulai dari musik, penataan cahaya atau lighting, tata rias, hingga pengelolaan properti dan teknis panggung.
Kemandirian menjadi salah satu aspek yang ditekankan dalam persiapan pementasan. Seluruh kebutuhan operasional, mulai dari menurunkan properti hingga menata panggung, dikerjakan oleh para siswa. Guru memberikan pendampingan, tetapi tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan teknis saat pementasan berlangsung.
“Dari mulai turun mobil hingga pengaturan tempat di panggung, semuanya dilakukan oleh anak-anak. Bapak dan ibu guru tidak boleh terlibat langsung dalam teknis operasional pementasan,” tegas Noor Kholis.
Tantangan lainnya adalah pendalaman karakter. Para aktor harus mampu memerankan tokoh dengan usia dan karakter berbeda dari kehidupan mereka sehari-hari, termasuk tokoh nenek, sekaligus menampilkan emosi yang sesuai dengan konflik dalam cerita. Persiapan dilakukan melalui ekstrakurikuler teater yang rutin digelar setiap Sabtu, kemudian ditingkatkan secara intensif selama satu bulan menjelang perlombaan.
Keikutsertaan tahun ini juga menjadi upaya SMPN 2 Kudus untuk mengulang prestasi sebelumnya. Sekolah tersebut pernah meraih juara pertama selama tiga tahun berturut-turut sebelum pandemi, serta memperoleh juara kedua pada penyelenggaraan tahun sebelumnya. Dukungan sekolah dan orang tua turut membantu memenuhi kebutuhan latihan maupun operasional pementasan.
Salah satu anggota tim, Aufar Radhitya Naraya, siswa kelas IX I yang memerankan tokoh suami, mengaku telah memasuki tahun kedua bergabung dalam kelompok teater sekolah. Di tengah padatnya latihan, ia berusaha menjaga keseimbangan antara kegiatan ekstrakurikuler dan kewajiban akademik melalui pengaturan waktu, bimbingan belajar, serta pencatatan kegiatan harian.
“Sejak awal saya sudah berkomitmen untuk memberikan usaha ekstra agar prestasi akademik dan kegiatan ekstrakurikuler teater bisa berjalan seimbang,” ungkap Aufar.
Aufar berharap pementasan Dinding-Dinding Mawar Hitam mampu mengantarkan SMPN 2 Kudus kembali menembus babak final dan meraih hasil terbaik. Lebih dari sekadar kompetisi, partisipasi dalam FTPI diharapkan menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat seni, melatih kedisiplinan, serta membangun karakter dan tanggung jawab. (YM/YM)
Post Views: 8
