0 5 min 19 hrs

KUDUS, Liputan7.Net — (17 Oktober 2026), Sebuah sepeda motor tertutup terpal kusam berdiri membisu di sudut teras panggung Aula SMK Taman Siswa. Pada bagian awal pementasan, tak ada dialog yang menjelaskan keberadaannya. Benda itu dibiarkan hadir sebagai pemandangan biasa, serupa jemuran baju atau sepasang sandal, hingga seorang lelaki menuntun sepeda kerjanya dan memarkirkannya di dekat sana.

Lelaki itu adalah Wardi, seorang pedagang sapu lidi yang baru pulang berjualan. Sore itu, anaknya, Kenes, datang membawa kabar kelulusan sekolah bersama dua sahabatnya, Wawan dan Widya. Suasana keluarga mulanya terasa hangat, menggambarkan keseharian keluarga sederhana. Namun, dinamika seketika berubah ketika Wawan mengutarakan rencananya untuk mendaftar sebagai Tamtama.

Pilihan cita-cita itu membentur ingatan masa lalu yang selama ini terkubur dalam diam: tuduhan palsu meracuni orang, kedatangan orang-orang berseragam, serta sepeda motor pemberian sebagai tanda penyesalan yang tak pernah berani dinaiki dan tak sanggup dibuang.

Lakon Tahun-Tahun Setelah Itu, yang ditulis oleh Idham Ardi, secara tajam memotret bagaimana trauma dan kecemasan akibat kekerasan otoritas bekerja dalam lingkup domestik. Trauma tidak serta-merta berakhir ketika peristiwa kekerasan politik atau institusional berlalu. Ia dapat mengendap dan membentuk ulang pola hidup seluruh anggota keluarga.

Dalam pementasan kelompok Teater Dejavu ini, adaptasi dan pengadeganan bertumpu pada cara para karakter menyembunyikan ingatan kelam mereka. Hal tersebut terlihat melalui penyangkalan dan mekanisme pertahanan psikologis (coping mechanism). Lastri, sang istri, secara konsisten mengalihkan perhatian setiap kali suaminya menatap sudut teras. Menawarkan makanan atau membicarakan hal-hal sepele menjadi cara untuk menunda munculnya kembali ingatan masa lalu.

Trauma Wardi juga tergambar melalui respons tubuh (somatic response). Tangannya yang gemetar hebat pada sore yang hangat, disertai keluhan “Dingin”, memperlihatkan bagaimana pengalaman traumatis dapat memengaruhi respons fisik seseorang, bahkan ketika ia berusaha membungkam ingatannya.

Sementara itu, Kenes dan anggota keluarga lainnya hidup di bawah bayang-bayang aturan tak tertulis: “Jangan sekarang.” Ketakutan tersebut membebani kehidupan psikologis anak dan menciptakan suasana keluarga yang selalu waspada terhadap simbol-simbol otoritas, seperti seragam militer atau kedatangan aparat.

Klimaks pementasan tidak dibangun melalui pengakuan verbal yang panjang, melainkan lewat keruntuhan fisik Wardi. Ia roboh dengan kalimat terputus-putus, memohon ampun kepada pihak yang tidak pernah hadir di panggung. Konflik yang berakar pada peristiwa di luar rumah itu akhirnya berpindah sepenuhnya ke dalam ingatan, tubuh, dan pola komunikasi keluarga.

Pilihan latar berupa ruang teras menuntut kepekaan teknis dan audiovisual yang matang. Tata panggung, dinamika pencahayaan, hingga pengolahan tata suara (soundscape) menjadi elemen penting untuk membangun perbedaan tekanan psikologis antara ruang dalam yang privat dan ruang luar yang bersifat publik.

Eksplorasi estetika dan keterampilan teknis pertunjukan semacam ini diharapkan menemukan ekosistem yang tepat di lingkungan sekolah. Program keahlian Produksi Film dan Program Penyiaran di SMK Taman Siswa dapat menyediakan ruang pendukung bagi perkembangan teater pelajar. Kompetensi seperti pengaturan framing, tata cahaya, kedalaman fokus (depth of field), dan pengolahan audio dapat menjadi bekal yang saling melengkapi dalam proses penciptaan pertunjukan.

Dian Puspitasari, Pembina Teater Dejavu, menegaskan esensi pembinaan seni dan karakter di lingkungan sekolah:

“Setiap pribadi pelajar yang terlibat adalah pribadi yang hidup, yang tengah bertumbuh, dan memiliki mata hati. Mereka adalah subjek yang siap berkembang, sehingga perlu kita pupuk, perteguh, dan perkuat.”

— Dian Puspitasari, Pembina Teater Dejavu

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa teater maupun keterampilan media kreatif audiovisual bukan sekadar sarana untuk mengejar hasil teknis atau menghasilkan pertunjukan secara instan. Lebih dari itu, keduanya dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan karakter, kepekaan rasa, dan kemampuan memahami pengalaman manusia.

Melalui Tahun-Tahun Setelah Itu, Teater Dejavu menghadirkan refleksi bahwa trauma masa lalu tidak selalu berakhir ketika peristiwanya berlalu. Dalam lingkup keluarga, ia dapat terus hidup melalui keheningan, kecemasan, dan hal-hal yang tak pernah selesai dibicarakan. Di sisi lain, proses berkesenian di sekolah membuka ruang bagi pelajar untuk bertumbuh, berekspresi, dan memahami kehidupan melalui teater.


Post Views: 15

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *