0 3 min 5 mths

Kudus, Liputan7.Net — Pemerintah Kabupaten Kudus resmi meluncurkan logo Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-477 bersamaan dengan Festival Tari Lajur Caping Kalo, Minggu (24/5/2026).

Peluncuran tersebut menjadi simbol semangat harmoni, budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat Kudus.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, logo HUT ke-477 mengusung filosofi “urup” yang berarti menyala sekaligus menghidupi. Filosofi tersebut dinilai merepresentasikan semangat masyarakat Kudus dalam menjaga kehidupan sosial dan ekonomi daerah.
“Urup itu menguripi. Artinya menyala dan menghidupi kehidupan masyarakat Kabupaten Kudus. Ini penuh hikmah dan harmonisasi,” kata Sam’ani.

Menurutnya, semangat masyarakat Kudus yang dikenal dengan filosofi “gusjigang” atau bagus, ngaji, dan dagang menjadi kekuatan utama dalam pembangunan daerah.

Ia menjelaskan, corak dalam logo HUT Kudus ke-477 mengambil unsur ukir gebyok khas Kudus yang selama ini menjadi identitas budaya lokal.

“Walaupun ukir identik dengan Jepara, di Kudus juga ada ukir khas terutama gebyok di rumah-rumah masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, komposisi warna pada logo disebut melambangkan persatuan dan harmonisasi seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun perbedaan lainnya.

“Ini bentuk kebersamaan dan persatuan. Semua perbedaan harus bisa saling menghidupi masyarakat menuju kesejahteraan,” lanjutnya.

Pada usia ke-477 ini, Pemkab Kudus menargetkan peningkatan berbagai indikator pembangunan, mulai kesejahteraan masyarakat hingga penurunan angka kemiskinan, stunting, dan pengangguran.

“Semua indikator harus lebih baik. Kemiskinan turun, stunting turun, pengangguran juga turun,” tegasnya.

Sam’ani juga mengapresiasi dukungan PT Nojorono melalui Yayasan Karya Bakti Nojorono dalam penyelenggaraan Festival Tari Lajur Caping Kalo yang dinilai ikut melestarikan budaya daerah.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Nojorono yang mendukung kegiatan budaya Kabupaten Kudus,” katanya.

Ia menambahkan, filosofi “urup” juga berkaitan dengan identitas Kudus sebagai Kota Kretek.

Menurutnya, sektor industri rokok masih menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat karena mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya beli warga.

“Kita kota kretek. Kalau industrinya hidup, masyarakat bisa bekerja dan daya beli meningkat,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai kota santri, kota kretek, dan kota jenang, Kudus juga disebut sebagai daerah dengan pertumbuhan investasi yang terus meningkat.

Bahkan, saat ini terdapat tiga hotel baru yang direncanakan dibangun di Kudus.

“Ada tiga hotel yang akan dibangun dengan nilai investasi bisa mencapai setengah triliun rupiah,” ungkapnya.

Di tengah kondisi kontraksi ekonomi, Pemkab Kudus juga terus mendorong penguatan UMKM dan pedagang kaki lima (PKL). Dalam festival budaya tersebut, PKL dilibatkan secara mandiri agar turut merasakan dampak ekonomi kegiatan.

“Kegiatan ini juga melibatkan PKL sehingga mereka mendapatkan pendapatan untuk menuju kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (YM/YM)


Post Views: 99

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *