KUDUS, ISKNEWS.com – Selama sembilan tahun terakhir, Program AJARI (Aku Pembelajar Inkuiri) telah menjadi salah satu penggerak transformasi pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kudus. Melalui program yang digagas Bakti Pendidikan Djarum Foundation bersama Pusat Belajar Guru, Kementerian Agama, serta Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, sebanyak 659 guru PAUD telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, menyenangkan, dan berpusat pada anak.
Upaya tersebut sejalan dengan visi pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas. Perubahan kualitas pendidikan sejak usia dini dinilai menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu berkolaborasi, serta adaptif menghadapi perkembangan zaman.
Program Manager Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Galuh Paskamagma, menjelaskan bahwa perubahan menuju pembelajaran berbasis bermain sebenarnya tidak sulit diterapkan apabila mendapat dukungan penuh dari guru. Tantangan terbesar justru terletak pada perubahan pola pikir mengenai indikator keberhasilan anak usia dini.
Menurutnya, selama ini masih banyak anggapan bahwa anak yang cerdas adalah mereka yang sudah menguasai kemampuan calistung sejak dini. Padahal, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, hingga keberanian bereksplorasi juga menjadi bekal penting bagi perkembangan anak.
“Sekarang anak-anak PAUD sudah terlihat berbeda. Mereka lebih bebas bereksplorasi, memilih aktivitas yang disukai, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang memancing rasa ingin tahu mereka agar terus berkembang,” ungkap Galuh.
Program AJARI mengusung pendekatan pembelajaran berbasis bermain (play-based learning) yang dipadukan dengan budaya inkuiri. Melalui metode ini, guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran, melainkan berperan sebagai fasilitator yang mendorong anak untuk mengeksplorasi, bertanya, mencari solusi, hingga mengembangkan rasa ingin tahu secara alami.
Model pembelajaran tersebut menjadi perubahan dari pola pembelajaran sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada kemampuan baca, tulis, dan hitung atau calistung. Kini, anak didorong untuk membangun pengalaman belajar melalui aktivitas yang sesuai dengan minat dan tahap perkembangannya.
“Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2017, Program AJARI telah memasuki Batch 4. Pada pelaksanaan batch terbaru, sebanyak 20 fasilitator memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada 105 guru PAUD dari 10 sekolah mitra Djarum Foundation, yang terdiri atas lima Taman Kanak-kanak (TK) dan lima Raudhatul Athfal (RA),” jelas Galuh.
Lebih lanjut, Rangkaian pelatihan Batch 4 dimulai sejak Juni 2025 dan berlangsung hampir satu tahun. Selama proses tersebut, para guru tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga pendampingan dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis inkuiri secara langsung di ruang kelas.
Perubahan itu mulai terlihat dari perkembangan peserta didik. Anak-anak kini dinilai lebih berani menyampaikan pendapat, aktif bertanya, mampu bekerja sama dengan teman, serta lebih percaya diri dalam menuangkan ide dan imajinasi melalui berbagai kegiatan belajar.
Apresiasi terhadap pelaksanaan Program AJARI juga disampaikan Bunda PAUD Kudus, Endhah Endhayani Sam’ani Intakoris. Ia menilai program tersebut menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini di Kabupaten Kudus.
Menurut Endhah, peningkatan kompetensi guru merupakan modal utama untuk mencetak generasi yang mampu bersaing di masa depan. Karena itu, ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pendidik di berbagai wilayah Kabupaten Kudus.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Guru PAUD merupakan fondasi awal dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas. Program seperti ini harus terus berjalan dan mendapat dukungan semua pihak,” katanya.
Ia juga berharap ilmu yang diperoleh para guru selama pelatihan tidak berhenti pada kegiatan pendampingan saja, melainkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran sehari-hari di sekolah.
“Harapan kami, ke depan semakin banyak guru PAUD di Kabupaten Kudus yang bisa mengikuti program ini sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh anak didik,” tandasnya.
Selama sembilan tahun penyelenggaraannya, Program AJARI telah memberikan dampak kepada 46 sekolah mitra Djarum Foundation dan 7.589 siswa PAUD di Kabupaten Kudus. Dengan semakin banyaknya guru yang memperoleh pelatihan, program ini diharapkan terus menjadi motor penggerak lahirnya generasi emas Indonesia yang tumbuh kreatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (AS/YM)
Post Views: 29
