0 4 min 5 mths

Nasional, Liputan7.Net – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan sektor keuangan global. Meski tekanan eksternal meningkat, KSSK memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sistem keuangan Indonesia hingga triwulan I 2026 masih tetap terjaga.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam hasil rapat berkala KSSK II Tahun 2026 yang digelar pada 27 April 2026 dan diumumkan melalui keterangan resmi pada Kamis (7/5/2026).

KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar keuangan global.

Konflik tersebut dinilai berdampak pada lonjakan harga energi dunia dan terganggunya rantai pasok perdagangan internasional, sehingga memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi global.

Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat menjadi 3,1 persen, lebih rendah dibanding 3,4 persen pada 2025. Sementara inflasi global diprediksi meningkat menjadi 4,4 persen.

Kondisi itu membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter global semakin terbatas, termasuk peluang penurunan suku bunga di Amerika Serikat.

Di tengah situasi tersebut, KSSK menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 5,39 persen.

Pertumbuhan tersebut didorong percepatan belanja pemerintah, peningkatan konsumsi rumah tangga, serta investasi yang mulai bergerak melalui proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur.

Program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat turut disebut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain itu, konsumsi masyarakat juga terdorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta bantuan sosial pemerintah untuk menjaga daya beli.

Meski demikian, KSSK tetap mewaspadai tekanan terhadap sektor eksternal akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Selama triwulan I 2026, investasi portofolio asing tercatat mengalami arus keluar atau net outflow sebesar USD1,7 miliar akibat meningkatnya sentimen risk off investor global.

Nilai tukar rupiah pada akhir Maret 2026 juga tercatat melemah menjadi Rp16.995 per dolar AS.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valas, baik melalui transaksi spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta memperkuat kebijakan suku bunga instrumen moneter.

Langkah tersebut dinilai cukup efektif menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global. Hingga 5 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.415 per dolar AS.

Di sisi lain, inflasi nasional masih terkendali dalam sasaran pemerintah. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan, turun dibanding Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen.

KSSK juga memastikan sektor perbankan nasional masih berada dalam kondisi kuat dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,49 persen dan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,1 persen.

Sementara itu, permodalan perbankan tetap solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,09 persen.

KSSK menegaskan koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (AS/YM)


Post Views: 41

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *