0 5 min 3 mths

KUDUS, Liputan7.Net  – Melalui Manager Keuangan dan Umum Ahmad Zuhri, manajemen Pabrik Gula (PG) Rendeng menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang terdampak emisi langes atau jelaga selama awal musim giling 2026. Perusahaan mengakui meningkatnya kapasitas giling tahun ini berdampak pada bertambahnya emisi langes atau jelaga.

Sebagai langkah penanganan, PG Rendeng kini mengoptimalkan sistem pengendalian emisi melalui penyempurnaan peralatan, pemasangan mesh atau jaring penyaring, spray atau pengabutan air, serta penyesuaian operasional Air Dust Fan (ADF) dengan target mampu mereduksi emisi hingga 80 persen.

Ahmad Zuhri mengatakan target giling PG Rendeng tahun ini mencapai sekitar 4 juta kuintal tebu, meningkat dibanding musim giling tahun sebelumnya. Hingga saat ini proses giling baru berjalan sekitar 50 hari atau sekitar seperempat dari target. Dengan kapasitas giling sekitar 3.200 ton cane per day (TCD), musim giling diperkirakan berlangsung selama lima hingga enam bulan atau hingga Oktober 2026.

Menurutnya, peningkatan kapasitas giling menyebabkan beban operasional boiler ikut bertambah. Kondisi tersebut diperparah musim kemarau yang membuat langes atau jelaga sisa pembakaran lebih mudah beterbangan karena tidak ada hujan yang membantu mengendapkan partikel seperti pada musim giling tahun lalu.

“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Setiap laporan yang masuk selalu kami tindak lanjuti dan menjadi perhatian serius perusahaan. Kami memiliki tim yang terus bekerja untuk mengurangi dampak langes atau jelaga terhadap lingkungan sekitar,” ujar Ahmad Zuhri.

Ia menjelaskan, keluhan masyarakat terutama berasal dari wilayah di sisi barat pabrik, seperti Desa Rendeng dan Pedawang. Menurutnya, arah angin pada musim kemarau menyebabkan partikel langes atau jelaga lebih mudah menyebar ke kawasan permukiman.

Selain terus melakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian emisi, Ahmad Zuhri mengatakan manajemen juga akan memperkuat komunikasi dengan pemerintah desa apabila terjadi gangguan operasional. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi lebih cepat dan tidak terjadi kesalahpahaman.

“Kami mengapresiasi seluruh masukan dari masyarakat. Ke depan, apabila terjadi kendala operasional, kami akan lebih cepat berkoordinasi dengan kepala desa dan perangkat desa agar informasi dapat diteruskan kepada RT maupun warga. Seluruh laporan masyarakat menjadi bahan evaluasi bagi kami,” katanya.

Sementara itu, staf teknik PG Rendeng, Moh Hidayat, menjelaskan meningkatnya target giling membuat beban kerja boiler ikut bertambah sehingga perusahaan harus melakukan berbagai penyesuaian teknis tanpa mengurangi target produksi.

Menurutnya, perusahaan telah mengoptimalkan Electrostatic Precipitator (ESP) sebagai alat utama penangkap langes atau jelaga dengan melakukan penyetelan ulang agar daya tangkapnya lebih maksimal. Meski salah satu unit ESP di sisi utara mengalami kendala, unit di sisi selatan dimaksimalkan sehingga partikel yang lolos menuju cerobong dapat ditekan.

Selain itu, PG Rendeng memasang mesh atau jaring penyaring di sekitar rotary dust collector sebagai filter tambahan terhadap langes atau jelaga yang keluar. Perusahaan juga tengah menyiapkan pemasangan spray atau sistem pengabutan air untuk menangkap partikel halus yang masih lolos dari proses penyaringan.

Di sisi operasional, perusahaan melakukan penyesuaian pada Air Dust Fan (ADF). Pengaturan yang sebelumnya berada di kisaran 80 persen diturunkan secara bertahap hingga sekitar 75 persen. Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan sistem pembakaran melalui pengaturan suplai udara primer dan udara sekunder sehingga kapasitas giling tetap terjaga, sementara daya tangkap Electrostatic Precipitator (ESP) menjadi lebih optimal.

Selain pengendalian emisi dari cerobong, tim operasional juga rutin melakukan penyemprotan terhadap tumpukan abu di area pabrik agar tidak kembali beterbangan saat cuaca panas dan angin bertiup kencang. Langkah tersebut dipadukan dengan pemasangan mesh dan rencana penambahan spray sebagai upaya memperkecil penyebaran partikel ke lingkungan sekitar.

“Dari evaluasi sementara, upaya yang kami lakukan sudah mampu mereduksi emisi sekitar 60 persen. Dengan penambahan mesh dan spray air, kami menargetkan reduksi emisi bisa mencapai sekitar 80 persen. Penyesuaian Air Dust Fan (ADF) juga tidak memengaruhi kapasitas produksi karena kami melakukan penyeimbangan pada sistem pembakaran. Harapannya, dampak langes atau jelaga terhadap masyarakat di sekitar pabrik dapat terus berkurang selama musim giling berlangsung,” pungkas Moh Hidayat. (YM/YM)


Post Views: 88

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *