Kudus, Liputan7.Net – Wacana pertukaran guru antar sekolah yang digagas Pemerintah Kabupaten Kudus mendapat dukungan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) setempat. Program ini dinilai mampu memperkaya pengalaman mengajar sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara merata.
Ketua PGRI Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan, saat diwawancarai pada Sabtu (4/4/2026), menyampaikan bahwa pihaknya mendukung penuh gagasan Bupati Kudus Sam’ani. Menurutnya, pertukaran guru maupun siswa dapat menjadi sarana untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.
“Dari PGRI tentu sangat mendukung. Harapannya, baik siswa maupun guru bisa saling menimba ilmu dan pengalaman, sehingga tidak ada lagi kesenjangan antar sekolah. Semua bisa berkembang secara seimbang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep pertukaran ini sebelumnya pernah diterapkan untuk siswa, dengan mekanisme masing-masing sekolah mengirimkan perwakilan untuk kemudian dirotasi ke sekolah lain. Namun, pelaksanaannya masih perlu evaluasi agar lebih optimal.
“Kalau sebelumnya hanya sekitar lima hari, itu kurang efektif. Waktu habis untuk pengenalan dan adaptasi, sehingga belum maksimal mendapatkan pengalaman belajar di sekolah tujuan,” jelasnya.
Untuk program pertukaran guru, Ahadi menilai langkah tersebut sangat positif. Guru-guru diharapkan bisa merasakan pengalaman mengajar di lingkungan sekolah yang berbeda, baik dari sisi karakter siswa maupun budaya belajar.
“Misalnya guru dari SMP 1 mengajar di sekolah lain, begitu juga sebaliknya. Ini penting agar guru memiliki pengalaman yang lebih luas dalam menghadapi berbagai kondisi siswa,” katanya.
Terkait durasi, ia menyarankan agar program pertukaran guru dilakukan lebih lama dibanding sebelumnya. Idealnya, kegiatan tersebut berlangsung hingga dua minggu agar manfaatnya lebih terasa.
“Kalau hanya satu minggu kurang efektif. Paling tidak dua minggu, supaya guru bisa benar-benar beradaptasi dan mengambil pengalaman dari sekolah yang ditempati,” imbuhnya.
Ahadi juga menegaskan bahwa para guru tidak perlu khawatir dengan program ini. Menurutnya, setiap guru pada dasarnya telah memiliki kompetensi pedagogik untuk menghadapi berbagai karakter siswa.
“Guru sudah terbiasa menghadapi siswa dengan kemampuan yang beragam, baik akademik maupun non-akademik. Jadi secara mental sebenarnya sudah siap,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai program ini bukan untuk mengambil potensi dari sekolah lain, melainkan sebagai sarana berbagi ide dan inovasi.
“Tujuannya bukan memindahkan keunggulan, tapi memberi warna baru. Guru bisa belajar dari pengalaman di tempat lain dan membawa ide-ide tersebut kembali ke sekolah asal,” jelasnya. (AS/YM)
Post Views: 1
