SAPA PAGI :
Pagi ini kita bicara soal yang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sedang menjadi tantangan besar bersama: sampah.
Belakangan ini ajakan memilah sampah mulai sering terdengar. Di perumahan, sekolah, warung makan, bahkan beberapa komunitas sudah mulai mencoba memisahkan sampah plastik, organik, dan kardus.
Langkah ini tentu baik.
Namun di lapangan muncul pertanyaan yang juga sangat penting:
Setelah dipilah, lalu siapa yang mengambil? Dibawa ke mana? Dan apakah benar-benar ada sistem yang berjalan setelah itu?
Karena jujur saja, banyak program awalnya semangat.
Ada tong sampah baru.
Ada sosialisasi.
Ada foto bersama.
Tapi beberapa waktu kemudian semuanya kembali bercampur.
Bukan karena masyarakat tidak peduli.
Tetapi karena sistem lanjutan di lapangan belum benar-benar terbentuk.
Padahal persoalan sampah sekarang tidak bisa lagi hanya mengandalkan TPA.
Sementara produksi sampah dari rumah, warung, usaha kuliner, hingga event terus bertambah setiap hari.
Artinya, persoalan utama bukan hanya soal membuang sampah.
Tetapi bagaimana membangun alur yang jelas mulai dari rumah sampai ke tempat pengolahan.
Mungkin sudah waktunya Kudus mulai memikirkan pola yang lebih sederhana tapi benar-benar berjalan.
Misalnya:
- warga memilah sampah dari rumah,
- ada titik kumpul kecil di tiap wilayah,
- pengambilan dilakukan terjadwal,
- sampah yang masih bernilai langsung dicatat dan dibeli,
- lalu dikirim ke mitra daur ulang secara rutin.
Tidak harus langsung besar.
Tidak harus mahal.
Tetapi berjalan terus.
Karena yang sering terjadi selama ini, semangat masyarakat muncul lebih cepat dibanding sistem pendukungnya.
Bank sampah juga perlu didorong menjadi lebih hidup.
Bukan hanya tempat menumpuk barang bekas saat ada kegiatan tertentu, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perputaran ekonomi lingkungan.
Mungkin nilainya tidak langsung besar.
Tapi jika berjalan rutin, dampaknya bisa sangat terasa:
- lingkungan lebih bersih,
- volume sampah ke TPA berkurang,
- dan masyarakat mulai melihat bahwa sampah ternyata masih punya nilai.
Yang juga penting, persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau hanya kepada masyarakat.
Karena sampah dihasilkan setiap hari oleh kita semua.
Artinya solusi juga perlu dibangun bersama:
- warga bergerak,
- komunitas ikut menjaga,
- pelaku usaha ikut mendukung,
- dan sistem pengangkutan dibuat lebih jelas dan terukur.
Kudus punya modal besar :
masyarakatnya guyub, wilayahnya tidak terlalu luas, dan kesadaran mulai tumbuh.
Tinggal bagaimana semangat itu disambungkan dengan sistem yang benar-benar berjalan di lapangan.
Karena kalau hanya berhenti pada ajakan tanpa mekanisme yang jelas, maka semuanya akan kembali menjadi tumpukan masalah yang terus berulang.
Dan mungkin pertanyaan paling penting pagi ini bukan lagi:
“Siapa yang salah soal sampah?”
Tetapi:
“Siapa yang mau mulai membangun sistem yang benar-benar jalan?” ( Mr )
Post Views: 68
