0 4 min 3 mths

KUDUS, ISKNEWS.com — Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan algoritma yang semakin memengaruhi cara manusia berpikir, Teater Marjuki menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak sekadar bercerita, tetapi mengajak penonton mempertanyakan kembali apa arti menjadi manusia.

Melalui pementasan “Kelir“, yang akan digelar pada Sabtu, 28 Juni 2026 pukul 19.30 WIB di Auditorium Universitas Muria Kudus dalam rangka Program Serah 6 Dewan Kesenian Kudus, kelompok teater asal Kudus ini membawa tema tentang krisis kehadiran dan kebudayaan citra yang membentuk manusia kontemporer.

Dramaturg pertunjukan, Agam Abimanyu, mengatakan bahwa gagasan utama “Kelir” lahir dari kegelisahan terhadap perubahan mendasar yang sedang dialami manusia.

“Pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi apakah teknologi akan mengubah manusia, tetapi apakah narasi tentang diri manusia masih benar-benar dihasilkan oleh manusia itu sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, manusia selalu membangun identitas melalui cerita yang terus-menerus ia sampaikan kepada dirinya maupun kepada orang lain. Namun, di era algoritma dan kecerdasan buatan, proses pembentukan cerita tersebut semakin banyak dipengaruhi oleh sistem di luar diri manusia.

Sebagai ilustrasi, ia menyinggung perkembangan teknologi AI yang mampu meniru suara, gaya bicara, hingga pola bahasa seseorang melalui ribuan rekaman yang dipelajari mesin.

“Kalau suatu AI bisa berbicara dengan intonasi, pilihan kata, bahkan humor yang sama seperti seseorang, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologinya berhasil. Yang menarik adalah, apakah itu masih kehadiran orang yang sama, atau hanya rata-rata statistik dari semua yang pernah ia katakan,” jelasnya.

Baginya, fenomena tersebut bukan lagi sekadar kemungkinan masa depan. Dalam skala yang lebih luas, menurutnya, kondisi serupa telah berlangsung setiap hari melalui algoritma media sosial yang menentukan informasi apa yang dikonsumsi, cerita apa yang memperoleh perhatian, hingga bentuk kehidupan seperti apa yang dianggap ideal.

“Yang sedang dibentuk bukan sekadar selera. Yang sedang dibentuk adalah imajinasi kita tentang kemungkinan hidup,” katanya.

Pemikiran tersebut menjadi salah satu landasan konseptual dramaturgi “Kelir”. Agam mengakui bahwa pemikiran Guy Debord dalam The Society of the Spectacle menjadi salah satu referensi penting dalam proses penyusunan pertunjukan.

“Debord berbicara tentang masyarakat yang hidup melalui representasi dan citra. Hari ini kita melihat kondisi itu berkembang jauh lebih kompleks karena seluruh pengalaman kita dimediasi teknologi digital,” ujarnya.

Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke atas panggung, Teater Marjuki memilih pendekatan puppet sebagai bahasa tubuh utama pertunjukan. Delapan aktor muda Davina Shereen, Laili Zakia, Shazie Ramadhani, Fitria Noor Aini, Adinda Fatikhatul, Julia Lifa, Eva S. R., dan Aisyah Rhani mengembangkan tubuh yang tampak digerakkan oleh kekuatan yang entah.

Menurut Agam, pilihan itu bukan sekadar eksperimen artistik, melainkan metafora atas manusia hari ini.

“Kami ingin memperlihatkan tubuh yang masih hidup, masih sadar, tetapi ada jarak antara kehendak dan tindakan. Seolah ada sesuatu di luar dirinya yang lebih dulu mengarahkan narasi kehidupannya,” katanya.

Di tengah dunia digital yang memungkinkan gambar, suara, bahkan identitas dimanipulasi, Teater Marjuki justru memilih panggung sebagai medium utama.

“Bagi kami, teater kali ini adalah ruang di mana kehadiran tidak bisa diedit. Apa yang terjadi di atas panggung hanya terjadi sekali. Tubuh benar-benar hadir bersama penontonnya. Itu menjadi penting ketika kita hidup di masa ketika hampir semua hal bisa dimediasi dan direkayasa,” tuturnya.

Alih-alih menawarkan jawaban, “Kelir” justru sengaja membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap terbuka hingga akhir pertunjukan.

“Kami tidak sedang memberikan solusi. Yang kami harapkan justru penonton pulang sambil terus membawa pertanyaan itu bersama dirinya,” pungkasnya.

Pertunjukan “Kelir” disutradarai oleh Ahmad Safrudin dengan dramaturgi Agam Abimanyu, dan menjadi bagian dari Program Serah edisi ke 6.


Post Views: 40

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *