0 5 min 7 mths

Kudus, Liputan7.Net – Perayaan Cap Go Meh di Kelenteng TITD Hok Hien Bio Kudus berjalan khidmat dan meriah. Ratusan warga Tionghoa di Kudus mengikuti perayaan yang menjadi penutup seluruh rangkaian Tahun Baru Imlek tahun ini, Selasa malam.

Sesepuh kelenteng, Tjia Eng Bie, menegaskan bahwa Cap Go Meh Cap Go Meh 2026 jatuh pada hari Selasa, 3 Maret 2026 tepat 15 hari setelah Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili  pada 17 Februari 2026 lalu.

Cap Go Meh sendiri merupakan perayaan hari kelimabelas sejak hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Tahun Baru Imlek yang sekaligus menjadi penanda berakhirnya masa perayaan Tahun Baru Tionghoa.

“Cap Go Meh itu 15 hari setelah Imlek. Jadi ini merupakan perayaan penutup Imlek. Selama 15 hari itu kita masih bisa saling bersilaturahmi. Setelah lewat Cap Go Meh, masa perayaan Imlek selesai,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum Imlek, termasuk persiapan berbagai atraksi budaya dan pembinaan generasi muda. Pada malam puncak, acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan penampilan barongsai junior mulai dari siswa kelas 1 hingga kelas 5 SD.

Setelah itu tampil barongsai remaja, atraksi liong tunggal yang mulai berkembang di Pulau Jawa, serta pertunjukan “naga terbang” menggunakan tali yang dikenal dengan sebutan velung. Seluruh atraksi tersebut melibatkan anak-anak binaan dari tingkat SD hingga SMP.

“Kita memang lebih meriah tahun ini. Kalau tahun lalu yang tampil hanya senior, sekarang kita tampilkan semua, termasuk anak-anak kecil supaya mentalnya terbentuk sejak dini,” jelasnya.

Menurutnya, pembinaan tidak semata untuk kepentingan perayaan, tetapi juga membangun karakter, moral, dan mental generasi muda. Ia menegaskan, barongsai, wushu, dan liong kini telah diakui sebagai cabang olahraga resmi baik nasional maupun internasional.

“Wushu sudah diakui dunia lewat IWUF, barongsai dan liong juga sudah ada organisasi internasionalnya. Di Indonesia juga diakui KONI. Jadi ini bukan sekadar budaya, tapi juga olahraga,” terangnya.

Ia menambahkan, Cap Go Meh merupakan perayaan budaya Tionghoa yang terbuka untuk siapa saja tanpa memandang agama.

“Cap Go Meh ini perayaan Tionghoa, tapi semua boleh ikut merayakan. Tidak memandang agama. Yang penting kebersamaan,” katanya.

Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh yang paling meriah disebutnya berada di Singkawang dan Pontianak, bahkan Singkawang telah dikenal hingga mancanegara.

Terkait jumlah umat di Hok Hien Bio, ia menyebut sekitar seratus orang. Namun simpatisan yang terlibat dalam pembinaan jauh lebih banyak dan berasal dari berbagai latar belakang.

“Banyak anak-anak barongsai dan wushu itu bukan dari umat sini, tapi mereka ikut berlatih. Kita tidak melihat agamanya, tapi bagaimana membangun moral dan mental mereka,” ungkapnya.

Tahun ini, pihak kelenteng mengusung tema “bulan penuh berkah” dengan harapan Indonesia, khususnya Kudus, tetap aman dan damai.

“Kita mohon supaya negara kita selalu aman, Indonesia aman, Kudus khususnya juga aman. Kesehatan juga yang utama,” tandasnya.

Perayaan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu diawali dengan buka puasa bersama bagi anak-anak yang menjalankan ibadah puasa, sebelum seluruh rangkaian atraksi budaya digelar hingga malam hari.

Hadir dalam perayaan tersebut Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Ketua TP PKK Endhah Sam’ani, Dandim Kudus Yusufa, serta anggota DPRD Kudus dari Fraksi Partai Gerindra Valerie Yudistira Pramudya yang juga menjabat Ketua DPD AKTI Jawa Tengah dan Sekretaris Umum KORMI Jateng.

Kehadiran jajaran pemerintah daerah menjadi penegasan komitmen menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Kota Kretek.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah merupakan bentuk dukungan terhadap keberagaman budaya dan adat yang tumbuh di masyarakat.

“Ini sebagai bentuk perayaan, ini sebagai bentuk Pemerintah Kabupaten Kudus hadir memberikan dukungan dan support bahwa keragaman budaya, keragaman adat dan sebagainya kita hormati sama,” ujarnya.

Ia berharap suasana damai yang selama ini terjaga dapat terus dipertahankan.

“Moga-moga Kabupaten Kudus ini situasi kondisinya aman, karena harmoni. Tidak ada apa-apa, artinya damai, aman. Terima kasih kepada saudara-saudara kita yang merayakan Cap Go Meh,” katanya.

Menurutnya, perayaan yang bertepatan dengan bulan Ramadan justru menunjukkan kuatnya toleransi di tengah masyarakat.

“Walaupun di bulan Ramadan ini tetap situasi kondisi baik,” tambahnya.

Ia juga mengaku terkesan dengan berbagai atraksi seperti Taitji, Kungfu, Barongsai, hingga Liong.

“Luar biasa. Belum tentu gerakan lima menit saja kita bisa, mungkin sudah semaput,” ucapnya sambil tersenyum.

Bupati menegaskan, rangkaian atraksi budaya tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari konstruksi budaya yang memperkuat harmoni di Kabupaten Kudus.

“Ini sebagai upaya menjaga toleransi. Sudah terjaga dengan baik. Menjadi konstruksi budaya di Kabupaten Kudus yang sangat indah, sangat aman dan baik,” tegasnya. (YM/YM)


Post Views: 6



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *