Kudus, Liputan7.Net – Kepergian Mbah Rudipah, perajin caping kalo asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, menjadi kehilangan besar bagi pelestarian kerajinan tradisional khas daerah tersebut. Sosok yang dikenal sebagai satu-satunya perajin anyaman caping kalo di Kudus itu meninggal dunia pada Selasa (26/5/2026) malam setelah menjalani perawatan di rumah sakit.
Mbah Rudipah mengembuskan napas terakhir di RS Mardi Rahayu sekitar pukul 21.04 WIB. Jenazah kemudian dimakamkan pada Rabu (27/5/2026). Prosesi pemakaman turut dihadiri Ketua Dekranasda Kudus Endhah Endhayani serta penggiat Tari Lajur Caping Kalo, Astri, yang mewakili Yayasan Karya Bakti (YKB) Nojorono.
Keponakan Mbah Rudipah, Agus Suwarno, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan almarhumah mulai menurun sejak Rabu (21/5/2026). Saat itu Mbah Rudipah mengeluhkan sesak napas hingga akhirnya dibawa ke Puskesmas Mejobo sebelum dirujuk ke RS Mardi Rahayu karena kondisi tubuhnya semakin lemah.
“Waktu dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah tidak sadar. Kemudian dirawat di ruang ICU selama sekitar tujuh hari sampai akhirnya meninggal dunia pada Selasa malam,” ujar Agus.
Selama ini, kata Agus, Mbah Rudipah tinggal bersamanya setelah rumah miliknya dijual. Meski usia sudah lanjut, almarhumah masih aktif membuat anyaman caping kalo hampir setiap hari. Agus juga membantu menyediakan bahan bambu yang digunakan untuk proses pembuatan kerajinan tersebut.
Menurutnya, kemampuan membuat anyaman caping kalo dengan detail dan tekstur halus hanya dimiliki Mbah Rudipah. Mulai dari proses awal hingga bentuk setengah jadi, semuanya dikerjakan sendiri dengan telaten.
Sementara itu, rekan kerja Mbah Rudipah, Kamto, mengaku sangat kehilangan sosok perajin senior tersebut. Selama ini dirinya hanya melanjutkan proses finishing hingga menjadi caping kalo utuh, sedangkan bagian anyaman halus sepenuhnya dibuat oleh Mbah Rudipah.
Kamto menilai kerajinan caping kalo kini semakin sulit berkembang karena proses pengerjaannya membutuhkan waktu lama. Untuk membuat satu anyaman halus saja diperlukan waktu sekitar satu minggu, sehingga banyak generasi muda lebih memilih bekerja di pabrik atau perkantoran.
“Saya jual caping kalo sekitar Rp500 ribu per buah, tapi pembelinya tidak setiap hari ada. Kalau dibanding kerja pabrik tentu penghasilannya lebih pasti,” ungkap Kamto.
Ia juga mengaku khawatir terhadap keberlangsungan kerajinan caping kalo setelah meninggalnya Mbah Rudipah. Meski sudah ada pelatihan dari perusahaan rokok untuk mencetak perajin baru, hingga kini belum ada yang mampu menghasilkan anyaman serapi karya almarhumah.
Ketua Dekranasda Kudus, Endhah Endhayani, mengatakan pemerintah daerah bersama Disbudpar Kudus terus berupaya menjaga eksistensi caping kalo sebagai salah satu warisan budaya lokal. Berbagai pelatihan dan pendampingan juga telah dilakukan untuk mendorong munculnya perajin baru.
Menurut Endhah, sebenarnya masih ada beberapa orang yang memiliki kemampuan membuat caping kalo, namun belum sepenuhnya fokus menekuni kerajinan tersebut karena memilih usaha lain yang dinilai lebih cepat menghasilkan pendapatan.
“Kami bersama Disbudpar dan PT Nojorono tetap berkomitmen agar caping kalo tetap lestari dan tidak hilang sebagai identitas budaya Kudus,” tandasnya. (AS/YM)
Post Views: 36
